Enter your keyword

PRE-TK / TK

  • null

    Fatima Mutia

    Head of Pra-TK & TK Lazuardi GCS

Kepala Pra-TK & TK

Latar Belakang

Masa depan yang didalamnya anak-anak kita akan hidup, diprediksi akan memiliki berbagai ciri persaingan yang ketat, pergaulan global yang intens, perubahan-perubahan yang sangat cepat di berbagai bidang kehidupan dengan segala permasalahanya, serta tantangan sekaligus kebutuhan kepada kehidupan keberagamaan yang lebih bermoral. Di sisi lain, pendidikan pada umumnya, kurang mengarahkan proses belajar-mengajar kepada upaya-upaya pembangkitan kreativitas anak-didik, yang sesungguhnya merupakan kunci sukses anak-anak kita di masa depan.

Latar Belakang

Masa depan yang didalamnya anak-anak kita akan hidup, diprediksi akan memiliki berbagai ciri persaingan yang ketat, pergaulan global yang intens, perubahan-perubahan yang sangat cepat di berbagai bidang kehidupan dengan segala permasalahanya, serta tantangan sekaligus kebutuhan kepada kehidupan keberagamaan yang lebih bermoral. Di sisi lain, pendidikan pada umumnya, kurang mengarahkan proses belajar-mengajar kepada upaya-upaya pembangkitan kreativitas anak-didik, yang sesungguhnya merupakan kunci sukses anak-anak kita di masa depan.

Tujuan

Melahirkan manusia-manusia Indonesia yang beriman, berakhlak mulia, mencintai ilmu pengetahuan, terampil dalam mengembangkan ilmunya, kreatif, menguasai kemampuan-kemampuan dasar, memiliki wawasan luas, percaya diri, komunikatif, cinta lingkungan, serta memiliki keprihatinan sosial.

Tujuan

Melahirkan manusia-manusia Indonesia yang beriman, berakhlak mulia, mencintai ilmu pengetahuan, terampil dalam mengembangkan ilmunya, kreatif, menguasai kemampuan-kemampuan dasar, memiliki wawasan luas, percaya diri, komunikatif, cinta lingkungan, serta memiliki keprihatinan sosial.

Filosofi

  • Multiple
    Intelligence

    Setiap anak adalah pribadi yang unik dan memiliki potensi kecerdasan majemuk (multiple intelligences).

  • peer
    group

    Anak lebih cepat belajar di tengah lingkungan teman sebayanya (peer group).

  • CREATIVITY
    CONFIDENCE

    Kreativitas dan kepercayaan diri anak lahir dari suasana belajar yang menyenangkan, ramah, penuh kasih sayang, kontekstual, bersifat praktik (hands-on) dan mengaktifkan kemampuan berpikir (brain-based).

  • Learning
    Environment

    Lingkungannya merupakan laboratorium belajar yang tak terbatas.

  • Cooperative
    Society

    Keberhasilan pembelajaran hanya dapat dicapai jika ada kerjasama yang baik antara guru/sekolah, orang tua dan masyarakat secara keseluruhan.

Filosofi

  • Multiple
    Intelligence

    Setiap anak adalah pribadi yang unik dan memiliki potensi kecerdasan majemuk (multiple intelligences).

  • peer
    group

    Anak lebih cepat belajar di tengah lingkungan teman sebayanya (peer group).

  • CREATIVITY
    CONFIDENCE

    Kreativitas dan kepercayaan diri anak lahir dari suasana belajar yang menyenangkan, ramah, penuh kasih sayang, kontekstual, bersifat praktik (hands-on) dan mengaktifkan kemampuan berpikir (brain-based).

  • Learning
    Environment

    Lingkungannya merupakan laboratorium belajar yang tak terbatas.

  • Cooperative
    Society

    Keberhasilan pembelajaran hanya dapat dicapai jika ada kerjasama yang baik antara guru/sekolah, orang tua dan masyarakat secara keseluruhan.

Proses Pembelajaran

Penataan ruang belajar berdasarkan sistem sentra yang mewakili satu atau lebih jenis kecerdasan. Proses pembelajaran dilakukan secara berpindah dari satu sentra ke sentra lainnya (moving class). Sistem ini diyakini mampu memfasilitasi kebutuhan eksplorasi yang sangat tinggi pada anak usia dini, memberi pengalaman belajar yang kaya dan bervariasi serta meningkatkan kenyamanan belajar.

Proses Pembelajaran

Penataan ruang belajar berdasarkan sistem sentra yang mewakili satu atau lebih jenis kecerdasan. Proses pembelajaran dilakukan secara berpindah dari satu sentra ke sentra lainnya (moving class). Sistem ini diyakini mampu memfasilitasi kebutuhan eksplorasi yang sangat tinggi pada anak usia dini, memberi pengalaman belajar yang kaya dan bervariasi serta meningkatkan kenyamanan belajar.

null

Sentra Make Believe (Bermain Peran)

Sentra bermain peran merupakan wujud dari kehidupan nyata yang dimainkan oleh anak, baik melalui bermain peran makro menggunakan tubuh anak sebagai model maupun mikro menggunakan boneka atau maket rumah-rumahan. Di sentra ini, ananda mengembangkan motorik dan koordinasinya saat berakting menggunakan berbagai properti, sekaligus mengasah literasi melalui latihan dialog yang memperkaya kosakata sesuai tema, seperti tema ``Keluarga``. Secara kognitif, anak belajar memecahkan masalah dalam skenario pura-pura dan memahami alur logika sebuah cerita. Proses bermain peran ini sangat efektif menstimulasi kecerdasan sosial emosional anak dengan melatih empati, berbagi peran, bekerja sama, serta memahami aturan sosialisasi dalam kelompok. Melalui interaksi tersebut, anak mempraktikkan nilai agama dan budi pekerti seperti adab sopan santun (mengucapkan tolong, maaf, dan terima kasih), yang kesemuanya dapat diekspresikan secara kreatif sebagai bentuk apresiasi seni drama anak usia dini.

null

Sentra Islamic Awareness (Imtaq)

Sentra Imtaq adalah pusat kegiatan pembelajaran yang berfokus pada pendidikan agama Islam dengan metode bermain sambil belajar, dirancang untuk menumbuhkan kecintaan kepada Allah SWT serta mengenalkan sikap saling menghargai dan kerukunan antarumat beragama. Dalam kegiatannya, sensorik motorik anak terstimulasi secara aktif melalui gerakan ibadah fisik seperti tata cara wudhu dan praktik gerakan shalat. Domain literasi dan kognitif diasah dengan baik saat anak menyimak cerita Nabi, melafalkan doa harian dan surah pendek, serta mengurutkan kejadian dari kisah-kisah agama. Sentra ini sangat kental dengan penanaman nilai agama dan budi pekerti yang bertujuan membentuk karakter mulia, ketakwaan, serta pembiasaan ibadah sejak dini. Didukung oleh perkembangan sosial emosional, anak didorong untuk menumbuhkan sikap saling menyayangi sesama makhluk, berbagi, dan bersabar. Selain itu, anak-anak juga diajak untuk mengekspresikan seni religius melalui lantunan Asmaul Husna, nyanyian Islami, maupun aktivitas kriya bertema agama.

null

Sentra Music (Musik)

Sentra musik memberikan ruang bagi anak untuk berekspresi mengeksplorasi aneka bunyi, nada, ketukan ritmis, dan lagu dengan memanfaatkan ragam instrumen musik yang disesuaikan untuk usia anak-anak. Stimulasi sensorik dan motorik (psychomotor domain) terlihat jelas melalui koordinasi tangan saat anak menabuh perkusi, memetik alat musik sederhana, serta menggerakkan tubuh selaras dengan irama. Mengulang lirik lagu dan merespons ketukan dengan tepat efektif menstimulasi memori verbal serta pengucapan kata untuk mendukung literasi anak, sementara secara kognitif anak dilatih untuk mengidentifikasi pola nada cepat-lambat atau keras-lembut. Dengan bermain ansambel musik bersama, anak melatih kecerdasan sosial emosionalnya untuk berkolaborasi dan mendengarkan teman guna menciptakan harmoni nada. Nilai agama dan budi pekerti turut ditanamkan tatkala anak bernyanyi dengan pesan yang positif, menumbuhkan rasa syukur atas panca indra pendengaran, dan menjadikan aktivitas musik sebagai sarana apresiasi keindahan seni (aesthetic) yang menyentuh hati.

Monday
Futsal
Traditional Dance
Choir
BTQ
Musical Ensemble
Story Makers
Nature Explorer

KINDERGARTEN CENTERS

null

Sentra Blocks (Balok)

Sentra balok memfasilitasi anak untuk merancang bangun menggunakan berbagai macam balok dengan keragaman bentuk, ukuran, warna, dan tekstur. Saat menyusun balok agar seimbang dan tidak runtuh, anak menstimulasi motorik halus dan koordinasi mata-tangannya, sekaligus secara kognitif mengembangkan pengenalan geometri, berhitung permulaan, serta logika spasial dan kemampuan memecahkan masalah. Anak-anak didorong untuk mengasah kemampuan literasinya dengan menceritakan dan mempresentasikan bangunan yang telah dibuat kepada teman dan guru. Kemampuan sosial emosional serta nilai agama dan budi pekerti terbangun dengan baik saat mereka belajar bekerja sama dalam tim, melatih kesabaran, berbagi mainan, dan memupuk rasa tanggung jawab dengan merapikan kembali balok ke tempat semula. Lebih dari sekadar menyusun benda, anak juga mengeksplorasi nilai seni dan estetika melalui kreativitas mereka dalam mendesain bentuk arsitektur bangunan yang proporsional.

null

Sentra Library / Audio Visual Room

Pusat literasi ini menyediakan bahan-bahan bernuansa bahasa seperti buku cerita bacaan, kartu huruf, kartu angka, serta media audio visual interaktif. Motorik anak, terutama koordinasi mata dan tangan, distimulasi ketika mereka membalik halaman buku atau mengamati tayangan visual. Sentra ini sangat kaya akan stimulasi literasi dan kognitif karena anak melakukan persiapan membaca permulaan, menyimak cerita, mengolah informasi atau pesan dari buku, serta mengingat urutan kejadian dari sebuah alur cerita. Ranah sosial emosional anak berkembang optimal saat mereka belajar berbagi buku dengan teman, menjadi pendengar yang penuh perhatian selama sesi storytelling, dan bernegosiasi. Dari bacaan dan tontonan yang disajikan, anak menyerap keteladanan karakter, hikmah moral, serta memupuk nilai agama dan budi pekerti. Tidak ketinggalan, anak juga dilatih kepekaan seninya dengan mengapresiasi keindahan ragam ilustrasi gambar di dalam buku maupun grafis dalam tayangan edukatif.

null

Sentra Literacy (Persiapan Bahasa)

Sentra Literacy dirancang khusus untuk memperkuat pondasi kesiapan membaca dan menulis permulaan secara interaktif melalui kegiatan bermain huruf, merangkai kata, dan eksplorasi bentuk-bentuk alfabet. Stimulasi sensorik motorik terbangun melalui latihan kesiapan otot jemari (pra-menulis), misalnya dengan menjiplak, menjepit, atau merangkai huruf menggunakan media bertekstur. Dari sisi literasi dan kognitif, anak secara aktif mengenali simbol dengan bunyi (phonological awareness), mencocokkan suku kata, serta memperluas perbendaharaan kosakatanya. Keberhasilan anak dalam merangkai namanya sendiri atau menyelesaikan permainan tebak kata berdampak positif dalam menumbuhkan rasa percaya diri pada dimensi sosial emosional. Anak diajarkan untuk berkomunikasi menggunakan pilihan kata-kata yang baik, sopan, dan santun sebagai wujud internalisasi nilai agama dan budi pekerti, serta dapat menyalurkan imajinasi seninya ketika menghias, mewarnai, atau membuat kerajinan tipografi huruf dari namanya sendiri.

null

Sentra Outside (Fisik Motorik)

Sentra Outside merupakan area bermain luar ruang yang secara khusus ditujukan untuk mengembangkan kebugaran fisik dan ketangkasan anak. Fokus utama stimulasi di sentra ini berada pada motorik kasar, di mana anak bebas berlari, berbaris, memanjat, melompat, dan bermain di berbagai fasilitas seperti trampolin, ayunan, dan monkey bars. Secara kognitif, anak belajar memperhitungkan jarak saat melompat atau mengatur langkah, sambil mengembangkan kemampuan literasi reseptif dengan memahami dan mematuhi instruksi keselamatan di area bermain. Kematangan sosial emosional anak dilatih dengan menumbuhkan keberanian untuk menghadapi tantangan fisik, melatih kemandirian, serta membiasakan budaya antre saat berbagi fasilitas. Adanya area seperti mini farm dan mini zoo menunjang penanaman nilai agama dan budi pekerti agar anak memiliki rasa welas asih dan tanggung jawab merawat tumbuhan serta hewan ciptaan Allah SWT. Sentra ini juga menjadi tempat mengekspresikan seni melalui senam bersama music & movement yang riang dalam ruang gerak yang leluasa.

FASILITAS Pra-TK/TK

null

Sentra Discovery (Sains & Eksplorasi)

Sentra Discovery bertujuan memfasilitasi anak untuk memperluas pengalaman empiris dengan mengeksplorasi bahan-bahan alami maupun buatan guna menumbuhkan rasa ingin tahu melalui metode pengamatan sederhana dan kegiatan seperti fun cooking. Stimulasi sensorik motorik terjadi secara langsung saat anak meraba berbagai tekstur bahan alam, menuangkan cairan, atau mengaduk bahan makanan. Melalui eksperimen tersebut, kemampuan kognitif anak diasah untuk berpikir analitis, mengenali konsep sebab-akibat, dan mengobservasi perubahan, yang hasilnya kemudian diceritakan secara lisan sebagai bentuk pengembangan literasi. Dalam proses eksplorasi dan bereksperimen kelompok, aspek sosial emosional anak dilatih agar mampu bekerja sama dan bersabar menunggu hasil sebuah proses pembelajaran. Anak-anak senantiasa diajak untuk mensyukuri dan mengagumi ciptaan Tuhan di alam semesta sebagai landasan nilai agama dan budi pekerti, serta dilatih kreativitas seninya ketika menghias hasil karya alam atau menata sajian masakan agar terlihat menarik.

null

Sentra Arts Exploration (Seni Rupa)

Sentra eksplorasi seni rupa adalah tempat di mana kematangan sensori dan motor anak dilatih melalui kegiatan visual dan kriya, seperti melukis, mencetak, menempel, membatik, dan membuat prakarya. Pada sentra ini, ananda menstimulasi motorik halus dan sensori taktil melalui kegiatan menggunting, meremas play doh/plastisin, dan memegang kuas yang menjadi pondasi penting bagi kesiapan menulis anak. Ananda juga dapat merencanakan pola sekaligus memecahkan masalah kognitif dalam proses pembuatan karya, seperti mengenal pencampuran warna atau merangkai bentuk. Kemampuan literasi dan bahasa diperkuat tatkala anak berdiskusi mengutarakan makna imajinatif dari karya yang dibuatnya. Kebebasan berkarya memfasilitasi sosial emosional anak untuk mengekspresikan perasaannya secara sehat, sembari menanamkan nilai agama dan budi pekerti melalui rasa syukur atas anugerah keindahan visual serta pembiasaan menjaga kebersihan area kerjanya. Sentra ini menjadi ruang utama bagi pengembangan imajinasi, estetika, dan kreativitas seni anak secara utuh.

null

Sentra English

Sentra bahasa Inggris didesain untuk menghadirkan lingkungan immersion atau pembiasaan di mana anak berinteraksi menggunakan frasa, kosakata, dan lagu-lagu (nursery rhymes) berbahasa asing secara santai dan komunikatif. Keterampilan motorik anak sering kali distimulasi melalui aktivitas Total Physical Response (TPR) di mana mereka merespons sebuah instruksi bahasa asing dengan gerakan fisik yang sigap. Secara literasi dan kognitif, anak memperluas jangkauan pemahaman bahasanya, berlatih pelafalan dasar, serta belajar menghubungkan objek visual di dunia nyata dengan sebutan dalam bahasa Inggris. Praktik bercakap-cakap atau role-play ringan membangun rasa keberanian, kemandirian, dan kepercayaan diri anak yang amat esensial bagi perkembangan sosial emosionalnya. Sentra ini mengajarkan anak untuk menghargai keanekaragaman bahasa sedunia (globally aware) yang diciptakan Tuhan sebagai perwujudan nilai agama dan budi pekerti yang inklusif, sembari menikmati unsur seni lewat lagu-lagu berirama ceria yang mengiringi sesi pembelajaran.

Wednesday
Fun Cooking
Sensory Play
Household
Little Inventors
Arts & Crafts
Traditional Games
Digital Explorers

Sentra Pembelajaran

null

Make Believe

Sentra bermain peran terdiri dari: Sentra bermain peran makro dapat menggunakan anak sebagai model. Sentra bermain peran mikro misalnya menggunakan boneka, maket meja-kursi, rumah-rumahan dan sebagainya. Sentra bermain peran merupakan wujud dari kehidupan nyata yang dimainkan anak, hal ini melatih anak memahami aturan, sosialisasi, kerja sama serta membantu anak memahami dunia mereka dengan memainkan berbagai macam peran. Pemilihan berbagai macam benda untuk bermain peran tergantung dari minat anak pada saat itu. Misal, Tema “Keluarga” dengan alat-alat yang dibutuhkan peralatan dapur dan lain-lain.

null

Imtaq

Pusat kegiatan pembelajaran dengan metode bermain sambil belajar pendidikan agama yang dirancang untu mengembangkan seluruh potensi anak sebagai karunia dari Allah SWT. Sentra ini juga mengangkat tentang kerukunan antar umat beragama.

null

Discovery

Sentra ini memfasilitasi anak untuk mengembangkan dan memperluas pengalaman dengan memberikan banyak kesempatan pada anak untuk mengeksplorasi bahan-bahan alami dan lainnya serta menumbuhkan rasa ingin tahu yang diperlukan dalam sebuah proses pembelajaran. Kegiatannya dapat berupa fun cooking atau hal-hal lain yang berhubungan dengan science.

null

Arts

Di sentra ini kematangan sensori dan motor anak akan dilatih dengan berbagai kegiatan seperti melukis, membatik dan lain-lain. Tujuan sentra ini adalah pengembangan Sensori halus yang diperlukan dalam proses kesiapan menulis, keterampilan berolahtangan dan menstimulasi system kerja otak anak.

null

Balok

Sentra balok berisi berbagai macam balok dalam berbagai bentuk, ukuran, warna, dan tekstur. Disini anak belajar banyak hal dengan cara menyusun/menggunakan balok, mengembangkan kemampuan logika matematika/berhitung permulaan, kemampuan berpikir dan memecahkan masalah.

null

Library

Bahan yang ada pada sentra ini adalah buku-buku, kartu kata, kartu huruf, kartu angka dan bahan-bahan untuk kegiatan menyimak, bercakapan persiapan menulis serta berhitung. Kegiatan yang dilaksanakan adalah persiapan membaca permulaan, menulis permulaan serta bercerita. Mendorong kemampuan intelektual anak, gerakan otot halus, koordinasi mata-tangan, belajar ketrampilan social (berbagi, bernegosiasi dan menyampaikan sebuah pesan).

null

Outside

Sentra Outside adalah sentra yang bertujuan mengembangkan kemampuan anak dalam motorik kasarnya. Kegiatannya dapat berupa bermain bebas, baris-berbaris, dan berbagai hal yang dilakukan di luar ruang.

Monday
Melukis
Komputer
BTQ
Ensamble
Menari

Wednesday
Bina Vokalia
Pencak Silat
Futsal
Art and Craft
Fun Cooking

FASILITAS Pra-TK/TK

Unit Aktivitas

Unit Aktivitas (UA) merupakan kegiatan intrakurikuler pilihan yang diselenggarakan setelah pembelajaran di kelas. Program ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi minat dan bakat melalui aktivitas yang menyenangkan, aktif, dan sesuai dengan tahap perkembangannya. Melalui UA, siswa mengembangkan kreativitas, keterampilan fisik, literasi, kecakapan hidup, kemampuan bekerja sama, kepercayaan diri, serta kepedulian terhadap lingkungan dan budaya.

Jadwal Kegiatan
Unit Aktivitas dilaksanakan pada:
Senin 11.00–12.00 WIB: Futsal, Traditional Dance, Choir, BTQ, Musical Ensemble, Story Makers, dan Nature Explorer
Rabu 11.00–12.00 WIB: Fun Cooking, Sensory Play, Household, Little Inventors, Arts & Crafts, Traditional Games, dan Digital Explorers

Melalui beragam pilihan tersebut, Unit Aktivitas di TK Lazuardi menjadi ruang bagi setiap siswa untuk menemukan potensi, mencoba pengalaman baru, dan bertumbuh sebagai pembelajar yang aktif, kreatif, mandiri, serta percaya diri.


Warning: Undefined variable $bname in /home/u783708280/domains/lazuardi.sch.id/public_html/wp-content/plugins/Ultimate_VC_Addons/modules/ultimate_functions.php on line 266

Baca Tulis iqro

There is a wide range of reading activities young readers can engage in to bring stories to life

Computer

Great activities for introducing and teaching computer science to kids.

Melukis

Children of all ages love to paint!

Marching Band

Marching is a fantastic musical activity for kids

Paduan Suara

Kids and music go together

Menari

Children need to know how to be social before they can dance together

Pencak Silat

Children can get exercise and have fun with Pencak Silat

Futsal

Kids need cardiovascular activity

Unit Aktivitas

Adalah kegiatan intra kurikuler pilihan yang sesuai dengan bakat dan minat anak, meliputi: Baca Tulis Iqro, Komputer, Melukis, Marching Band, Paduan Suara, Menari, Pencak Silat, Futsal, Fun Cooking dan Ensembel.


Warning: Undefined variable $bname in /home/u783708280/domains/lazuardi.sch.id/public_html/wp-content/plugins/Ultimate_VC_Addons/modules/ultimate_functions.php on line 266

iqro

There is a wide range of reading activities young readers can engage in to bring stories to life

Computer

Great activities for introducing and teaching computer science to kids.

Melukis

Children of all ages love to paint!

Marching Band

Marching is a fantastic musical activity for kids

Paduan Suara

Kids and music go together

Menari

Children need to know how to be social before they can dance together

Pencak Silat

Children can get exercise and have fun with Pencak Silat

Futsal

Kids need cardiovascular activity

Proses Belajar Mengajar

  • Penguatan sosial emosional dengan pendekatan disiplin positif melalui kegiatan morning circle, check in emosi, dan refleksi harian.

  • Iqro Recitation setiap zero hour dan pertemuan rutin setiap 2 minggu sekali.

  • Pengenalan Bahasa Inggris melalui classroom language dan program pengayaan English Literacy.

  • Pengenalan literasi dan numerasi melalui program pembelajaran di setiap sentra.

  • Program pengayaan (Special Program) seperti berenang

  • Peminjaman buku cerita setiap hari melalui program home reading.

  • Kunjungan ke rumah teman (home visit), project Visitation dan karyawisata (field trip).

  • Program khusus seperti Bulan Bahasa, Cooking Day, Sport Day, Smart Day, Earth Day, Book Day, Big Brother and Sister

  • Peringatan hari besar Agama Islam

  • Penghargaan Student of The Month, Lazuardi Excellence Award dan penghargaan insidental lain.

Proses Belajar Mengajar

  • Iqro Recitation setiap pagi.

  • Pembelajaran komputer sebagai program intra kurikuler khusus maupun terpadu dengan pembelajaran sentra lain (computer-integrated learning).

  • Pengenalan Bahasa Inggris melalui class room language dan program pengayaan English Literacy.

  • Pengenalan literasi dan numerasi melalui program pengayaan yang menyenangkan.

  • Peminjarnan buku cerita setiap hari.

  • Kunjungan ke rumah teman (home visit), kunjungan bulanan dan karyawisata.

  • Kunjungan tokoh dan peran profesi.

  • Pentas kelas (assembly) dan pentas akhir tahun (end-of-year gala performance).

  • Program khusus seperti Cooking Day, Sport Day, Science-Market-Math-Music-Art Day (S[M]3ART Day).

  • Penghargaan Student of The Month. Student of The Year dan penghargaan insidental lain.

Kurikulum

  • Program pengayaan yang merupakan kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler dikemas dalam unit aktifitas dan klub-klub yang meliputi pengayaan:

    • Komputer
    • Musik
    • Vokalia
    • Melukis Renang
    • Beladiri
    • Funlab
    • Lain-Lain
  • Kurikulum dirancang berdaraskan KURIKULUM NASIONAL (DIKNAS) yang dimodifikasi sensual kebutuhan.

  • Pemberian penekanan husus pada pengajaran agama yang berorientasi pada pembentkan AKHLAQ (karacter) yang secara khusus diformulasikan dalam konser LAZUARDI 20 serta pengembangan kemampuan berbahasa dan keterampian di bidang teknologi informasi.

  • Menerapkan sistem BILINGUAL (penggunaan Bahasa Inggris & Bahasa Indonesia) dalam proses belajar mengajar.

Kurikulum

  • Program pengayaan yang merupakan kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler dikemas dalam unit aktifitas dan klub-klub yang meliputi pengayaan:

    • Komputer
    • Musik
    • Vokalia
    • Melukis Renang
    • Beladiri
    • Funlab
    • Lain-Lain
  • Kurikulum dirancang berdaraskan KURIKULUM NASIONAL (DIKNAS) yang dimodifikasi sensual kebutuhan.

  • Pemberian penekanan husus pada pengajaran agama yang berorientasi pada pembentkan AKHLAQ (karacter) yang secara khusus diformulasikan dalam konser LAZUARDI 20 serta pengembangan kemampuan berbahasa dan keterampian di bidang teknologi informasi.

  • Menerapkan sistem BILINGUAL (penggunaan Bahasa Inggris & Bahasa Indonesia) dalam proses belajar mengajar.

Frequently Asked Questions

Tentang Beban Kurikulum

Lazuardi meminimumkan beban kurikulum hingga sebatas yang benar-benar diperlukan, sejalan dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, yakni mempersiapkan para siswanya untuk menjadi orang-orang yang sukses dan sejahtera secara fisik, mental, dan spiritual. Dengan kata lain, membekali mereka tidak hanya pengetahuan, namun juga ahklak, life skills dan kepekaan lingkungan,  sebagaimana dicanangkan oleh Kurikulum 2013.

Bagi Lazuardi, unsur-unsur life skills itu mencakup

  • Kecintaan kepada ilmu pengetahuan
  • Keterampilan belajar (mencari ilmu)
  • Keterampilan berkomunikasi, dalam berbagai bahasa khususnya bahasa Indonesia dan Inggris secara lisan, tertulis, maupun dengan mempergunakan tools lain, seperti komputer, audio-visual, dsb.
  • Kepercayaan diri
  • Akhlak mulia
  • Kepekaan Sosial
  • Penghargaan kepada lingkungan hidup

Penetapan mata pelajaran, tema-tema, dan topik-topik bahasan dilakukan dengan sepenuhnya mengacu kepada kebutuhan akan penanaman life skills tersebut di atas. Yang tidak sejalan dengan itu, meski masuk dalam Kurikulum Nasional, akan dihilangkan. Sementara yang perlu, dan belum tersedia, akan ditambahkan.

Dalam penyusunan kurikulum, Lazuardi juga belajar dari dan mengakomodasikan unsur-unsur yang baik dari berbagai pendidikan lain, baik di dalam maupun di luar negeri.

Tentang Keketatan Standar Pencapaian

Meski menyederhanakan beban kurikulum, sama sekali tak berarti bahwa Lazuardi hendak mengendorkan standar pencapaian atau prestasi siswa. Sebaliknya, pengurangan beban tersebut dilakukan justru agar tersedia cukup waktu dan sumberdaya untuk mencapai tingkat pencapaian maksimum dalam bidang-bidang yang menjadi sasaran pendidikan di Lazuardi seperti tersebut di atas. Tegasnya, Lazuardi menetapkan dan mengejar tingkat tertinggi pencapaian para siswanya.

Tentang Ketiadaan Tes Masuk dan Observasi

Ketiadaan tes masuk sama sekali tak ada hubungannya dengan standar prestasi yang hendak dicapai. Tes masuk ditiadakan karena sedikitnya 2 alasan :

  • Agar tak ada diskriminasi berdasar kemampuan akademik anak. Menurut keyakinan para pendiri Lazuardi, setiap anak berhak mendapatkan pendidikan terbaik. Bahkan Lazuardi menerima siswa yang memiliki kebutuhan khusus yang sesungguhnya secara potensial dapat menghambat perkembangan kegiatan belajarnya.
  • Kedua, Lazuardi percaya bahwa sekolah yang baik adalah yang dapat mengembangkan potensi siswanya, seperti apa pun kesiapan-akademiknya, menuju kehidupan yang sukses dan sejahtera.

Sebagai ganti tes masuk, Lazuardi mewajibkan para siswanya yang telah diterima semata-mata on first come first served basis untuk mengikuti observasi. Observasi ini dilakukan semata-mata untuk mengumpulkan informasi akan kesiapan, kelebihan, dan kekurangan siswa agar dengan demikian bisa dirancang kegiatan pembelajaran yang sesuai untuk masing-masing siswa tersebut.

Lazuardi juga menerapkan sistem remedial untuk siswa yang terlambat, dan pengayaan untuk siswa yang memiliki kelebihan di bidang-bidang tertentu.

Tentang Fun Learning, Suasana Demokratis, dan Disiplin

Meski sepenuhnya percaya bahwa para siswa akan belajar paling baik dalam suasana nyaman, fun, dan demokratis, Lazuardi juga percaya pada keharusan menegakkan disiplin di kalangan para siswanya. Menciptakan lingkungan yang nyaman, fun, serta demokratis merupakan suatu hal, sedang penegakan disiplin adalah hal lain. Bahkan, pendekatan belajar-mengajar yang fun dan demokratis justru lebih membutuhkan disiplin yang ketat agar tidak terjadi chaos.

Pendisiplinan siswa dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal sedapat mungkin ditetapkan sebagai konsensus dengan para siswa sendiri adil, serta tidak merusak harga diri dan kepercayaan diri siswa. Di sini perlu dikembangkan apa yang biasa disebut sebagai disiplin positif.

Tentang Hafalan

Hafalan dibatasi (diminimumkan) hanya pada hal-hal yang tak bisa tidak memang harus dihafal, seperti contohnya aritmatika, bacaan shalat dan doa-doa, dan sebagainya. Selebihnya hafalan tidak diperlukan. Jika seorang siswa sudah memiliki kecintaan kepada ilmu pengetahuan, dan tahu caranya mencari ilmu, maka keberadaan alat-alat teknologi (menyimpan dan mencari) informasi seperti komputer, internet, yang di masa-masa yang akan datang akan menjadi lebih praktis, kecil, ringan, powerful, dan affordable sudah cukup untuk menggantikan fungsi hafalan, sekaligus dalam terus meng-update wawasan dan pengetahuan.

Hal ini mengingat, bahwa cepatnya perubahan zaman, akan banyak bahan yang telah dihafal kehilangan relevansinya (kedaluwarsa, obsolete) ketika anak-anak menjadi dewasa. Belum lagi jika kita sadari bahwa banyak bahan yang dihafal kenyatannya mudah terlupa.

Tentang Pekerjaan Rumah

Pekerjaan rumah yang menyita waktu siswa untuk kegiatan bermain, bersosialisasi dengan keluarga, dan kegiatan-kegiatan tambahan di luar sekolah, serta membebani juga diminimumkan. Meski demikian, tetap diperlukan pekerjaan rumah untuk pelajaran-pelajaran yang memerlukan banyak latihan (drill) seperti membaca, menulis, matematika dan kegiatan-kegiatan (projects) yang membutuhkan interaksi dengan lingkungan luar sekolah, wawancara, penelitian, dan sebagainya.

Namun, kapan saja dimungkinkan, hendaknya PR-PR tersebut juga mengandung unsur yang menyenangkan bagi siswa sehingga tak terlalu menambah beban dan tingkat stres siswa (kadang-kadang juga keluarganya).

Tentang Penerapan Bilingual Teaching

Bilingual Teaching, yakni penggunaan Bahasa Inggris di samping bahasa Indonesia sebagai medium pengajaran, dilakukan secara bertahap sesuai dengan kesiapan siswa dan guru. Program ini dimulai pada tahun ajaran 2003/2004. Penerapan program ini secara relatif penuh dimulai dengan kelas I SD pada tahun ajaran itu dan berlanjut untuk kelas-kelas I pada tahun-tahun setelah itu. Sehingga,diharapkan, program bilingual ini bisa diterapkan dengan penuh pada tahun ke-6 setelah pencanangannya (Tahun ajaran 2009/2010). Pemilihan kelas I ini terutama diambil karena sebagian besar siswa kelas I adalah lulusan TK Lazuardi yang relatif sudah lebih siap. Meskipun demikian, di kelas-kelas lain metode bilingual juga diterapkan sesuai kesiapan siswa.

Tentang Text Books dan Bahan Ajar

Karena tak sepenuhnya mengikuti Kurikulum Nasional, maka Lazuardi juga tak sepenuhnya menggunakan text books yang dibuat berdasar kurikulum Nasional tersebut. Saat ini SD Lazuardi mempergunakan buku yang dipakai di sekolah Singapura (Seri My Pals) karena sejauh ini diangap paling sesuai dengan kurikulum khas Lazuardi. Selain itu, digunakan juga handouts yang dikembangkan sendiri oleh para guru. Secara bertahap diharapkan kumpulan handouts akan menjadi bahan ajar utama di Lazuardi.

Juga, terbuka kemungkinan di waktu-waktu yang tepat digunakan text book pendukung lain, bisa dari Eropa, atau Amerika, atau dari negara-negara lain, atau bahkan dari dalam negeri juga. Penggunan text books berbahasa Inggris diharapkan juga dapat lebih mendukung program bilingual teaching.

Tentang Tes dan Ujian

Bahan-bahan untuk keperluan penilaian (assesment) dan ujian (examination) dipilih yang sepenuhnya sejalan dngan kurikulum khas Lazuardi. Kecuali dalam bidang-bidang tertentu yang memang membutuhkan hafalan seperti disinggung sebelumnya penilaian dan ujian diarahkan untuk menilai pemahaman dan penguasaan siswa atas dasar-dasar ilmu dan wawasan umum, bukan hafalan-hafalan.

Penilaian juga tak hanya mengambil bentuk tes tertulis, melainkan juga tes praktik maupun kenyataan praktik sehari-hari siswa dalam kehidupan sekolah, sesuai dengan sifat kemampuan yang diharapkan dari siswa apakah kognitif, afektif, atau psikomotorik.

Bobot penilaian antara tes tertulis, tes praktik, dan kenyataan praktik sehari-hari untuk masing-masing bidang pelajaran bisa bervariasi tergantung pada jenis kemampuan yang diharapkan tersebut. Misal, pada tes olah raga, nilai tes praktik akan jauh lebih besar dari nilai tes tertulis, demikian juga mengaji dan melakukan ibadah-ibadah ritual. Dalam bidang akhlak, kenyataan praktik sehar-hari siswa diberi bobot paling besar.

Tes diselenggarakan terutama untuk meng-endorse penguasan siswa, dan mendapatkan feed back bagi kegiatan belajar-mengajar (baik untuk sekolah, guru, maupun siswa sendiri), dan bukan untuk menghukum.

Tentang Kesiapan Siswa Menghadapi Standar non-Lazuardi (Ujian Akhir, Ujian Masuk ke Jenjang Lebih Tinggi, dan Jika Siswa Pindah Sekolah di Tengah Jalan)

Untuk menghadapi ujian akhir atau ujian masuk ke jenjang yang lebih tinggi, Lazuardi menyediakan waktu khusus dan secukupnya (sedikitnya satu semester terakhir) menjelang ujian-ujian tersebut untuk men-drill para siswa dengan unsur-unsur kurikulum nasional yang tidak tercakup dalam kurikulum khas Lazuardi dalam semacam bimbingan tes in house. Penyediaan waktu ini dapat dimungkinkan mengingat kurikulum khas Lazuardi bisa diselesaikan lebih cepat sehubungan dengan pengurangan beban kurikulum nasional yang dilakukannya.

Berdasar pengamatan Lazuardi, ujian-ujian terstandardisasikan yang bersifat nasional dan masih berorientasi kurikulum model tradisional akan makin kurang kepentingannya. Ujian akhir SD sudah dihilangkan, kemungkinan besar juga SMP, bahkan SMA. Kalau pun ada, fungsinya akan diarahkan sebagai alat untuk mendapatkan feed back bagi pemerintah mengenai kualitas umum pendidikan nasional kita.

Ujian masuk sekolah pun kemungkinan akan lebih berorientasi kepada aptitude test yang menguji kemampuan dasar dan umum, yang tak membutuhkan penguasaan mendetil dan hafalan terhadap suatu spektrum luas tema-tema dan topik bahasan. Yakni semacam SAT (Standard Aptitude Test) dan GRE (General Record Examination) yang selama ini sudah diterapkan di negara-negara maju. Kecenderungan ini sudah mulai terlihat dalam tes masuk PT-PT berkualitas di negeri kita, seperti ITB, UGM, IPB, dan sebagainya. Diduga kecenderungan seperti ini akan makin nyata di masa-masa mendatang.

Dalam hal siswa terpaksa harus pindah sekolah di tengah jalan, diharapkan orang tua dapat mencarikan sekolah yang memiliki kesejalanan dengan konsep Lazuardi. Atau, kalau tidak, diharapkan keterampilan belajar siswa yang telah ditanamkan di Lazuardi dapat membantu anak mengejar tema-tema bahasan yang belum dikuasainya.

Tentang Kaidah Semua Anak Naik Kelas

Lazuardi menganggap sebagaimana sistem yang diterapkan di negara-negara maju, siswa harus menempati jenjang pendidikan berdasar usianya. Membiarkan anak tetap tinggal di kelasnya yang lama karena kurangnya prestasi akademik, lebih banyak merugikan siswa ketimbang menguntungkan. Hal seperti ini lebih sering merusak self confident siswa, mencerabutnya dari jaringan-sosialnya, dan dengan demikian tidak banyak membantu membangkitkan semangatnya. Yang sering terjadi, anak yang tinggal kelas akan terus mundur prestasinya. Yang lebih diperlukan adalah program remedial dan upaya untuk membangkitkan semangat belajar siswa yang mundur. Khususnya untuk jenjang-jenjang pendidikan rendah, keberhasilan siswa masih amat tergantung dan lebih merupakan tanggung jawab guru dan sekolah.

Siswa dapat saja tidak dinaikkan kelas karena alasan-alasan yang amat khusus, umumnya terkait dengan persoalan sikap, misal banyak melanggar kedisiplinan dan aturan sekolah sering tidak masuk sekolah ditambah kurangnya perhatian orang tua, atau karena alasan-alasan lain yang dapat diterima. Namun, sebelumnya sudah harus dilakukan peringatan dan diambil tindakan-tindakan seperlunya. Keputusan untuk tak menaikkan kelas harus mendapatkan approval dari Direktur Sekolah.

Tentang Nilai Penting Membaca dan Menulis

Perlu penekanan khusus pada peningkatan kemampuan membaca dan menulis siswa. Karena, kegiatan membaca dan menulis sudah disepakati amat sentral dalam menentukan kesuksesan, sekaligus menunjang pencapaian kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Membaca bukan saja menambah ilmu dan wawasan yang makin krusial dalam lingkungan yang berubah secara amat cepat melainkan juga dapat meningkatkan daya tahan (resilience. Adversity Quotient), sekaligus juga memiliki unsur eksistensial dan terapeutik. Menulis adalah medium ekspresi dan komunikasi, serta memiliki juga unsur terapeutik. (Dalam hubungannya dengan kegiatan menulis ini, kegiatan membaca juga memiliki peran yang amat menetukan). Sepintar apapun dan seluas apa pun wawasan seseorang, kesemuanya itu tak akan banyak berguna jika tak terkomunukasikan.

Tentang Prinsip Pendidikan Inklusi

Lazuardi percaya bahwa setiap anak dapat didik untuk hidup sejahtera dan berhak untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik. Di sisi lain, Lazuardi juga percaya bahwa anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus (special needs) akan terdidik dengan cara paling baik jika diakomodasi dalam sebuah pendidikan umum bersama anak-anak yang tak memiliki kebutuhan khusus. Menempatkan anak-anak seperti ini dalam suatu pendidikan khusus, meski mungkin lebih praktis, hanya akan mempersempit dunianya, dan memperkecil ruangnya untuk belajar lebih banyak dari dunia yang lebih luas. Sekaligus juga lebih memungkinkan mereka untuk memola cara-hidup mereka sesuai dengan cara hidup orang-orang yang tak memiliki kebutuhan khusus pada umumnya.

Meski demikian, Lazuardi juga menyadari bahwa anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti ini memerlukan sebatas tertentu terapi untuk mengatasi atau mengurangi hambatan akibat kebutuhan-kebutuhan-khusus mereka tersebut. Karena itu, Lazuardi juga menyediakan kelas khusus dengan nama Kelas Pelangi untuk menyelenggarakan terapi-terapi tambahan seperti itu. Sejalan dengan itu, Lazuardi juga mempekerjakan terapis-terapis yang ahli di bidangnya untuk menangani anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti ini.

Pada praktitknya, keberadaan anak-anak dengan kebutuhan khusus ini ternyata juga memberikan dampak positif pada anak-anak lainnya. Yakni, dalam bentuk tumbuhnya kasih sayang dan rasa pengertian kepada teman-teman spesial mereka ini. Secara tidak langsung, hal ini menjadi semacam medium pendidikan emotional intelligence (khususnya aspek interpersonal intelligence), yang terbukti akan amat bermanfaat bagi kesuksesan hidup mereka kelak,

Tentang Pengajaran Agama

Pengajaran agama di Lazuardi, selain dimaksudkan untuk memberikan keterampilan menjalankan ibadah, diarahkan terutama untuk menanamkan akhlak mulia kepada para siswanya. Karenanya, orientasinya lebih kepada ranah afektif (sikap) dan psikomotorik praktis), ketimbang kognitif.

Selain itu, pengajaran juga diarahkan kepada penghayatan agama yang bersifat terbuka dan progresif, yakni sejalan dengan kemajuan dan kebutuhan zaman, tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar agama. Termasuk di dalamnya toleransi inter dan antaragama, yakni toleransi kepada berbagai kelompok di lingkungan persaudaraan Islam, maupun kepada masyarakat beragama lain.

Apakah Project-Based Learning?

Project-Based Learning(PBL) adalah pendekatan pengajaran yang secara sistematik melibatkan siswa secara aktif dalam memperoleh pengetahuan, meningkatkan pemahaman dan kecakapan hidup melalui serangkaian proses penyelidikan dan pencarian informasi yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat kompleks dan autentik dalam kegiatan atau proyek tertentu.

Project-Based Learning merupakan pendekatan dinamis terhadap pengajaran dan pembelajaran yang semakin diterima di dunia pendidikan. Kegiatan pembelajaran PBL, di mana siswa mengeksplorasi masalah dan tantangan dunia nyata, semakin populer dan terbukti melibatkan minat dan motivasi diri siswa.

Apakah Project-Based Learning sama dengan project yang biasa ditugaskan guru selama ini?

Penugasan project selama ini  memang cukup berhasil, namun tidak semua “project” mengarah pada pembelajaran.  Seringkali project dikerjakan sendiri tanpa mempertimbangkan pentingnya kerja sama kelompok atau malah dikerjakan oleh orangtua. Bahkan jika dilakukan dalam kelompok, kontribusi siswa secara individual tidak terlihat, atau tidak semua anggota tim berperan secara memadai. Kelemahan lain adalah penilaian yang lebih menekankan pada hasil  tinimbang proses.

Project-Based Learning mengatasi masalah tersebut dengan adanya metodologi yang tepat. Sebuah project yang baik harus berakar dari riset dan memiliki tiga unsur penting: penguasaan konten, penggunaan dan pengembangan keterampilan menyelesaikan masalah dan kecakapan lain yang termasuk dalam Kecakapan Abad Ke-21, serta penguasaan mendalam tentang subyek yang dipelajari.

Apa saja faktor-faktor penting dalam kerangka pembelajaran Project-Based Learning?

Project-Based Learning dirancang dengan mempertimbangkan beberapa faktor penting:

  • Lingkungan belajar yang aman dan terhormat
    • Keamanan fisik dan intelektual bagi semua siswa harus dilindungi sehingga siswa dapat mengambil risiko yang dituntut dalam situasi project yang kompleks. Guruharus menetapkan batas-batas perilaku yang jelas dan mendukung suatu

 

  • atmosfer di mana gagasan yang berbeda dapat bersanding dengan saling menghormati.

 

  • Hubungan guru dan siswa yang personal
    • Guruharus mengenal siswanya dengan cukup baik untuk menjadi mitra pendidik orangtua di sekolah. Ini membutuhkan niat membangun hubungan baik dengan siswa, bersedia mendengarkan dengan hormat dan aktif, dan menyediakan kesempatan nyata bagi siswa untuk turut membentuk lingkungan belajar mereka.
  • Hubungan sesama siswa yang produktif
    • Kemampuan kerjasama tim yang baik yang disyaratkan sebagian besar project membutuhkan lingkungan kelas di mana siswa saling mengenal, mempercayai dan menghargai serta siap terlibat dalam situasi kolaborasi yang kental.
  • Transformasi peran guru
    • PBL mengubah peran guru dari penyedia materi menjadi koordinator pembelajaran. Guruakan mengurangi waktu menerangkan dan mengarahkan, dan sebaliknya akan lebih banyak merencakan, mengamati, mendengarkan, melatih, memfasilitasi dan membentuk karakter.
  • Keterlibatan dan komitmen guru yang semakin intens
    • Guru harus memberi teladan komitmen yang tinggi. Ini berarti bersedia melakukan lebih dari yang diharapkan siswa, merespon kebutuhan individual, mempertahankan harapan keberhasilan bagi semua, dan menolak membiarkan siswa “bersembunyi” atau lolos dengan usaha yang setengah-setengah.
  • Keterlibatan orangtua dalam pembelajaran
    • Orangtua dapat memainkan peran penting dengan membantu siswa dalam proses penyidikan dan pencarian (inquiry), menyediakan sumberdaya tambahan, mendampingi siswa dalam kunjungan belajar yang sesuai dan menjadi penonton dalam eksibisi publik.
  • Kemitraan dengan masyarakat
    • Organisasi kemasyarakatan, perusahaan, dan institusi pendidikan tinggi juga dapat mendukung PBL dalam berbagai cara. Beberapa mitra dapat menyediakan project pendorong (impetusproject) dengan memberdayakan siswa untuk memecahkan masalah riil untuk sekolah, perusahaan atau organisasi mereka. Pihak lain dapat bekerjasama dengan menyediakan mentor, pengarah project, pakar, dan panel penilai unjuk kerja.

Bagaimana teknis penerapan Project-Based Learning di Lazuardi GCS?

Pada tahun ajaran 2013-2014, telah dibuka satu kelas program PBL di Kelas 1, sementara Kelas 1 lainnya tetap menjalankan program reguler. Siswamengikuti model PBL mulai Kelas1 hingga Kelas5. Di Kelas 6, siswa akan mengikuti persiapan Ujian Nasional secara intensif untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Bagi siswa program PBL, mata pelajaran Bahasa Indonesia, Social Studies, Science, Health, Math dan PKn akan terintegrasi dalam project mereka. Siswa program PBL akan bergabung dengan siswa program reguler dalam mata pelajaran lain seperti dalam Olahraga, Art, Pendidikan Islam, English Language Arts; dan kegiatan tambahanseperti Club dan Unit Activity.

Apakah ada kriteria khusus bagi peserta program PBL?

Kegiatan belajar dengan pendekatan Project-Based Learning  mensyaratkan kemandirian siswa dan dukungan orangtua untuk secara intens terlibat dalam pembelajaran. Selain kedua hal tersebut, tidak ada persyaratan lain. Biaya program Project-Based Learning sama dengan biaya kelas reguler.Jika orangtua berminat mengikutsertakan putra/putrinya dalam program ini, silakan menghubungi sekolah untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut.

Apakah yang dimaksud dengan LSP (Lower Secondary Programme)?

Cambridge Lower Secondary Program adalah program Cambridge University, Inggris, untuk peningkatan kualitas pedidikan menengah pertama (SMP) – khususnya dalam 3 bidang utama, Bahasa Inggris, Matematika dan Sains.

Notes: LSP ini masih tercantum di brosur. Ada informasi bahwa LSP sudah di update dengan program Secondary 1. (bisa di cross check ke ASEO)

Bagaimana dengan siswa tidak bisa berbahasa Inggris yang mengikuti kurikulum Cambridge?

SMP Lazuardi mengadakan berbagai program pengembangan bahasa Inggris. Dengan kemauan yang kuat dan penuh rasa percaya diri, siswa yang belum terbiasa berbahasa Inggris seiring perjalanan waktu akan terbiasa berbahasa Inggris. Begitu pula dengan penggunaan bahasa Inggris dalam pembelajaran berkurikulum Cambridge di kelas.

Lulusan SMP Lazuardi melanjutkan ke SMA mana saja?

Ada yang melanjutkan ke SMA Negeri (Depok dan Jakarta), ada yang melanjutkan ke SMA swasta.

Bagaimana chance SMP Lazuardi untuk masuk ke SMA Negeri?

Berdasarkan pengalaman siswa-siswa yang sudah lulus, banyak siswa yang dapat melanjutkan ke SMA negeri. Baik alumni siswa kami yang berasal dari SMA negeri atau swasta pun pada akhirnya tetap dapat melanjutkan ke universitas negeri.

Apakah sering terjadi bullying?

Kemungkinan Bullying  sangat kecil terjadi karena banyaknya program yang dilakukan SMP Lazuardi untuk menekannya, antara lain: guru kelas stand by di kelas. Setiap guru fokus dan mengawasi perilaku siswa. Ada jadwal guru piket di setiap kegiatan rutin dan keseharian siswa,. Pelaksanaan pembelajaran program Unit Aktivitas yang setiap kelompoknya terdiri atas gabungan siswa ketiga jenjang (7-9) sehingga siswa terlatih untuk bekerja sama dan berinteraksi dengan welas asih.

Seberapa banyak materi pelajaran agama Islam yang diberikan dan dalam bentuk apa saja?

Selain materi pelajaran sesuai kurikulum 2013, SMP Lazuardi memiliki banyak program pelajaran Agama Islam yang diterapkan dalam keseharian siswa di sekolah. Antara lain mengaji, ratiban, shalat berjamaah, doa bersama. Selain itu, siswa mengikuti kegiatan rutin berdasarkan waktu tertentu, yaitu Tahajud Bersama yang diadakan sekitar2-3 kali dalam setahun  dan kegiatan perayaan hari-hari besar Agama Islam.

Apa saja kegiatan ekskul yang diadakan di sekolah?

Antara lain ekskul panahan, renang, taekwondo, mangaa, mini orkestra.

Apakah tersedia fasilitas antar jemput?

Ya, tersedia sesuai area yang ditentukan oleh sekolah.

Pukul berapa kegiatan pembelajaran dimulai dan selesai?

Pembelajaran dimulai pukul  7.30 dan selesai pada pukul 14.35 WIB.

Bagaimana persiapan UN nanti?

Seluruh kegiatan pembelajaran siswa kelas 9 akan difokuskan pada persiapan Ujian Nasional (UN). Persiapan yang dilakukan adalah: try out, latihan soal di kelas, bimbingan belajar bersama guru-guru di sekolah dengan jadwal khusus

Perbedaan antara ekskul, UA, dan club

Ekskul (ekstrakurikuler) adalah kegiatan yang dapat dipilih siswa sesuai minatnya dan tidak termasuk dalam materi pembelajaran. Diadakan saat pulang sekolah atau hari Sabtu, memerlukan biaya khusus jika siswa ingin mengikutinya.

UA (Unit Aktivitas) adalah kegiatan pembelajaran (program pengembangan life skills)yang terbagi atas beberapa paket, sudah termasuk dalam biaya sekolah, dan wajib diikuti oleh seluruh siswa. Setiap paket terdiri dari beberapa bidang: olahraga, musik, Art, pengembangan diri, dan IT.

Club adalah program pengembangan khusus siswa yang berbakat/berpotensi dalam bidang tertentu, contohnya: Club Band, Club Science. Tidak dikenakan biaya untuk bergabung dalam club tertentu. Keikutsertaannya atas rekomendasi guru.

GENERAL

Tentang Beban Kurikulum

Lazuardi meminimumkan beban kurikulum hingga sebatas yang benar-benar diperlukan, sejalan dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, yakni mempersiapkan para siswanya untuk menjadi orang-orang yang sukses dan sejahtera secara fisik, mental, dan spiritual. Dengan kata lain, membekali mereka tidak hanya pengetahuan, namun juga ahklak, life skills dan kepekaan lingkungan,  sebagaimana dicanangkan oleh Kurikulum 2013.

Bagi Lazuardi, unsur-unsur life skills itu mencakup

  • Kecintaan kepada ilmu pengetahuan
  • Keterampilan belajar (mencari ilmu)
  • Keterampilan berkomunikasi, dalam berbagai bahasa khususnya bahasa Indonesia dan Inggris secara lisan, tertulis, maupun dengan mempergunakan tools lain, seperti komputer, audio-visual, dsb.
  • Kepercayaan diri
  • Akhlak mulia
  • Kepekaan Sosial
  • Penghargaan kepada lingkungan hidup

Penetapan mata pelajaran, tema-tema, dan topik-topik bahasan dilakukan dengan sepenuhnya mengacu kepada kebutuhan akan penanaman life skills tersebut di atas. Yang tidak sejalan dengan itu, meski masuk dalam Kurikulum Nasional, akan dihilangkan. Sementara yang perlu, dan belum tersedia, akan ditambahkan.

Dalam penyusunan kurikulum, Lazuardi juga belajar dari dan mengakomodasikan unsur-unsur yang baik dari berbagai pendidikan lain, baik di dalam maupun di luar negeri.

Tentang Keketatan Standar Pencapaian

Meski menyederhanakan beban kurikulum, sama sekali tak berarti bahwa Lazuardi hendak mengendorkan standar pencapaian atau prestasi siswa. Sebaliknya, pengurangan beban tersebut dilakukan justru agar tersedia cukup waktu dan sumberdaya untuk mencapai tingkat pencapaian maksimum dalam bidang-bidang yang menjadi sasaran pendidikan di Lazuardi seperti tersebut di atas. Tegasnya, Lazuardi menetapkan dan mengejar tingkat tertinggi pencapaian para siswanya.

Tentang Ketiadaan Tes Masuk dan Observasi

Ketiadaan tes masuk sama sekali tak ada hubungannya dengan standar prestasi yang hendak dicapai. Tes masuk ditiadakan karena sedikitnya 2 alasan :

  • Agar tak ada diskriminasi berdasar kemampuan akademik anak. Menurut keyakinan para pendiri Lazuardi, setiap anak berhak mendapatkan pendidikan terbaik. Bahkan Lazuardi menerima siswa yang memiliki kebutuhan khusus yang sesungguhnya secara potensial dapat menghambat perkembangan kegiatan belajarnya.
  • Kedua, Lazuardi percaya bahwa sekolah yang baik adalah yang dapat mengembangkan potensi siswanya, seperti apa pun kesiapan-akademiknya, menuju kehidupan yang sukses dan sejahtera.

Sebagai ganti tes masuk, Lazuardi mewajibkan para siswanya yang telah diterima semata-mata on first come first served basis untuk mengikuti observasi. Observasi ini dilakukan semata-mata untuk mengumpulkan informasi akan kesiapan, kelebihan, dan kekurangan siswa agar dengan demikian bisa dirancang kegiatan pembelajaran yang sesuai untuk masing-masing siswa tersebut.

Lazuardi juga menerapkan sistem remedial untuk siswa yang terlambat, dan pengayaan untuk siswa yang memiliki kelebihan di bidang-bidang tertentu.

Tentang Fun Learning, Suasana Demokratis, dan Disiplin

Meski sepenuhnya percaya bahwa para siswa akan belajar paling baik dalam suasana nyaman, fun, dan demokratis, Lazuardi juga percaya pada keharusan menegakkan disiplin di kalangan para siswanya. Menciptakan lingkungan yang nyaman, fun, serta demokratis merupakan suatu hal, sedang penegakan disiplin adalah hal lain. Bahkan, pendekatan belajar-mengajar yang fun dan demokratis justru lebih membutuhkan disiplin yang ketat agar tidak terjadi chaos.

Pendisiplinan siswa dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal sedapat mungkin ditetapkan sebagai konsensus dengan para siswa sendiri adil, serta tidak merusak harga diri dan kepercayaan diri siswa. Di sini perlu dikembangkan apa yang biasa disebut sebagai disiplin positif.

Tentang Hafalan

Hafalan dibatasi (diminimumkan) hanya pada hal-hal yang tak bisa tidak memang harus dihafal, seperti contohnya aritmatika, bacaan shalat dan doa-doa, dan sebagainya. Selebihnya hafalan tidak diperlukan. Jika seorang siswa sudah memiliki kecintaan kepada ilmu pengetahuan, dan tahu caranya mencari ilmu, maka keberadaan alat-alat teknologi (menyimpan dan mencari) informasi seperti komputer, internet, yang di masa-masa yang akan datang akan menjadi lebih praktis, kecil, ringan, powerful, dan affordable sudah cukup untuk menggantikan fungsi hafalan, sekaligus dalam terus meng-update wawasan dan pengetahuan.

Hal ini mengingat, bahwa cepatnya perubahan zaman, akan banyak bahan yang telah dihafal kehilangan relevansinya (kedaluwarsa, obsolete) ketika anak-anak menjadi dewasa. Belum lagi jika kita sadari bahwa banyak bahan yang dihafal kenyatannya mudah terlupa.

Tentang Pekerjaan Rumah

Pekerjaan rumah yang menyita waktu siswa untuk kegiatan bermain, bersosialisasi dengan keluarga, dan kegiatan-kegiatan tambahan di luar sekolah, serta membebani juga diminimumkan. Meski demikian, tetap diperlukan pekerjaan rumah untuk pelajaran-pelajaran yang memerlukan banyak latihan (drill) seperti membaca, menulis, matematika dan kegiatan-kegiatan (projects) yang membutuhkan interaksi dengan lingkungan luar sekolah, wawancara, penelitian, dan sebagainya.

Namun, kapan saja dimungkinkan, hendaknya PR-PR tersebut juga mengandung unsur yang menyenangkan bagi siswa sehingga tak terlalu menambah beban dan tingkat stres siswa (kadang-kadang juga keluarganya).

Tentang Penerapan Bilingual Teaching

Bilingual Teaching, yakni penggunaan Bahasa Inggris di samping bahasa Indonesia sebagai medium pengajaran, dilakukan secara bertahap sesuai dengan kesiapan siswa dan guru. Program ini dimulai pada tahun ajaran 2003/2004. Penerapan program ini secara relatif penuh dimulai dengan kelas I SD pada tahun ajaran itu dan berlanjut untuk kelas-kelas I pada tahun-tahun setelah itu. Sehingga,diharapkan, program bilingual ini bisa diterapkan dengan penuh pada tahun ke-6 setelah pencanangannya (Tahun ajaran 2009/2010). Pemilihan kelas I ini terutama diambil karena sebagian besar siswa kelas I adalah lulusan TK Lazuardi yang relatif sudah lebih siap. Meskipun demikian, di kelas-kelas lain metode bilingual juga diterapkan sesuai kesiapan siswa.

Tentang Text Books dan Bahan Ajar

Karena tak sepenuhnya mengikuti Kurikulum Nasional, maka Lazuardi juga tak sepenuhnya menggunakan text books yang dibuat berdasar kurikulum Nasional tersebut. Saat ini SD Lazuardi mempergunakan buku yang dipakai di sekolah Singapura (Seri My Pals) karena sejauh ini diangap paling sesuai dengan kurikulum khas Lazuardi. Selain itu, digunakan juga handouts yang dikembangkan sendiri oleh para guru. Secara bertahap diharapkan kumpulan handouts akan menjadi bahan ajar utama di Lazuardi.

Juga, terbuka kemungkinan di waktu-waktu yang tepat digunakan text book pendukung lain, bisa dari Eropa, atau Amerika, atau dari negara-negara lain, atau bahkan dari dalam negeri juga. Penggunan text books berbahasa Inggris diharapkan juga dapat lebih mendukung program bilingual teaching.

Tentang Tes dan Ujian

Bahan-bahan untuk keperluan penilaian (assesment) dan ujian (examination) dipilih yang sepenuhnya sejalan dngan kurikulum khas Lazuardi. Kecuali dalam bidang-bidang tertentu yang memang membutuhkan hafalan seperti disinggung sebelumnya penilaian dan ujian diarahkan untuk menilai pemahaman dan penguasaan siswa atas dasar-dasar ilmu dan wawasan umum, bukan hafalan-hafalan.

Penilaian juga tak hanya mengambil bentuk tes tertulis, melainkan juga tes praktik maupun kenyataan praktik sehari-hari siswa dalam kehidupan sekolah, sesuai dengan sifat kemampuan yang diharapkan dari siswa apakah kognitif, afektif, atau psikomotorik.

Bobot penilaian antara tes tertulis, tes praktik, dan kenyataan praktik sehari-hari untuk masing-masing bidang pelajaran bisa bervariasi tergantung pada jenis kemampuan yang diharapkan tersebut. Misal, pada tes olah raga, nilai tes praktik akan jauh lebih besar dari nilai tes tertulis, demikian juga mengaji dan melakukan ibadah-ibadah ritual. Dalam bidang akhlak, kenyataan praktik sehar-hari siswa diberi bobot paling besar.

Tes diselenggarakan terutama untuk meng-endorse penguasan siswa, dan mendapatkan feed back bagi kegiatan belajar-mengajar (baik untuk sekolah, guru, maupun siswa sendiri), dan bukan untuk menghukum.

Tentang Kesiapan Siswa Menghadapi Standar non-Lazuardi (Ujian Akhir, Ujian Masuk ke Jenjang Lebih Tinggi, dan Jika Siswa Pindah Sekolah di Tengah Jalan)

Untuk menghadapi ujian akhir atau ujian masuk ke jenjang yang lebih tinggi, Lazuardi menyediakan waktu khusus dan secukupnya (sedikitnya satu semester terakhir) menjelang ujian-ujian tersebut untuk men-drill para siswa dengan unsur-unsur kurikulum nasional yang tidak tercakup dalam kurikulum khas Lazuardi dalam semacam bimbingan tes in house. Penyediaan waktu ini dapat dimungkinkan mengingat kurikulum khas Lazuardi bisa diselesaikan lebih cepat sehubungan dengan pengurangan beban kurikulum nasional yang dilakukannya.

Berdasar pengamatan Lazuardi, ujian-ujian terstandardisasikan yang bersifat nasional dan masih berorientasi kurikulum model tradisional akan makin kurang kepentingannya. Ujian akhir SD sudah dihilangkan, kemungkinan besar juga SMP, bahkan SMA. Kalau pun ada, fungsinya akan diarahkan sebagai alat untuk mendapatkan feed back bagi pemerintah mengenai kualitas umum pendidikan nasional kita.

Ujian masuk sekolah pun kemungkinan akan lebih berorientasi kepada aptitude test yang menguji kemampuan dasar dan umum, yang tak membutuhkan penguasaan mendetil dan hafalan terhadap suatu spektrum luas tema-tema dan topik bahasan. Yakni semacam SAT (Standard Aptitude Test) dan GRE (General Record Examination) yang selama ini sudah diterapkan di negara-negara maju. Kecenderungan ini sudah mulai terlihat dalam tes masuk PT-PT berkualitas di negeri kita, seperti ITB, UGM, IPB, dan sebagainya. Diduga kecenderungan seperti ini akan makin nyata di masa-masa mendatang.

Dalam hal siswa terpaksa harus pindah sekolah di tengah jalan, diharapkan orang tua dapat mencarikan sekolah yang memiliki kesejalanan dengan konsep Lazuardi. Atau, kalau tidak, diharapkan keterampilan belajar siswa yang telah ditanamkan di Lazuardi dapat membantu anak mengejar tema-tema bahasan yang belum dikuasainya.

Tentang Kaidah Semua Anak Naik Kelas

Lazuardi menganggap sebagaimana sistem yang diterapkan di negara-negara maju, siswa harus menempati jenjang pendidikan berdasar usianya. Membiarkan anak tetap tinggal di kelasnya yang lama karena kurangnya prestasi akademik, lebih banyak merugikan siswa ketimbang menguntungkan. Hal seperti ini lebih sering merusak self confident siswa, mencerabutnya dari jaringan-sosialnya, dan dengan demikian tidak banyak membantu membangkitkan semangatnya. Yang sering terjadi, anak yang tinggal kelas akan terus mundur prestasinya. Yang lebih diperlukan adalah program remedial dan upaya untuk membangkitkan semangat belajar siswa yang mundur. Khususnya untuk jenjang-jenjang pendidikan rendah, keberhasilan siswa masih amat tergantung dan lebih merupakan tanggung jawab guru dan sekolah.

Siswa dapat saja tidak dinaikkan kelas karena alasan-alasan yang amat khusus, umumnya terkait dengan persoalan sikap, misal banyak melanggar kedisiplinan dan aturan sekolah sering tidak masuk sekolah ditambah kurangnya perhatian orang tua, atau karena alasan-alasan lain yang dapat diterima. Namun, sebelumnya sudah harus dilakukan peringatan dan diambil tindakan-tindakan seperlunya. Keputusan untuk tak menaikkan kelas harus mendapatkan approval dari Direktur Sekolah.

Tentang Nilai Penting Membaca dan Menulis

Perlu penekanan khusus pada peningkatan kemampuan membaca dan menulis siswa. Karena, kegiatan membaca dan menulis sudah disepakati amat sentral dalam menentukan kesuksesan, sekaligus menunjang pencapaian kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Membaca bukan saja menambah ilmu dan wawasan yang makin krusial dalam lingkungan yang berubah secara amat cepat melainkan juga dapat meningkatkan daya tahan (resilience. Adversity Quotient), sekaligus juga memiliki unsur eksistensial dan terapeutik. Menulis adalah medium ekspresi dan komunikasi, serta memiliki juga unsur terapeutik. (Dalam hubungannya dengan kegiatan menulis ini, kegiatan membaca juga memiliki peran yang amat menetukan). Sepintar apapun dan seluas apa pun wawasan seseorang, kesemuanya itu tak akan banyak berguna jika tak terkomunukasikan.

Tentang Prinsip Pendidikan Inklusi

Lazuardi percaya bahwa setiap anak dapat didik untuk hidup sejahtera dan berhak untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik. Di sisi lain, Lazuardi juga percaya bahwa anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus (special needs) akan terdidik dengan cara paling baik jika diakomodasi dalam sebuah pendidikan umum bersama anak-anak yang tak memiliki kebutuhan khusus. Menempatkan anak-anak seperti ini dalam suatu pendidikan khusus, meski mungkin lebih praktis, hanya akan mempersempit dunianya, dan memperkecil ruangnya untuk belajar lebih banyak dari dunia yang lebih luas. Sekaligus juga lebih memungkinkan mereka untuk memola cara-hidup mereka sesuai dengan cara hidup orang-orang yang tak memiliki kebutuhan khusus pada umumnya.

Meski demikian, Lazuardi juga menyadari bahwa anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti ini memerlukan sebatas tertentu terapi untuk mengatasi atau mengurangi hambatan akibat kebutuhan-kebutuhan-khusus mereka tersebut. Karena itu, Lazuardi juga menyediakan kelas khusus dengan nama Kelas Pelangi untuk menyelenggarakan terapi-terapi tambahan seperti itu. Sejalan dengan itu, Lazuardi juga mempekerjakan terapis-terapis yang ahli di bidangnya untuk menangani anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti ini.

Pada praktitknya, keberadaan anak-anak dengan kebutuhan khusus ini ternyata juga memberikan dampak positif pada anak-anak lainnya. Yakni, dalam bentuk tumbuhnya kasih sayang dan rasa pengertian kepada teman-teman spesial mereka ini. Secara tidak langsung, hal ini menjadi semacam medium pendidikan emotional intelligence (khususnya aspek interpersonal intelligence), yang terbukti akan amat bermanfaat bagi kesuksesan hidup mereka kelak,

Tentang Pengajaran Agama

Pengajaran agama di Lazuardi, selain dimaksudkan untuk memberikan keterampilan menjalankan ibadah, diarahkan terutama untuk menanamkan akhlak mulia kepada para siswanya. Karenanya, orientasinya lebih kepada ranah afektif (sikap) dan psikomotorik praktis), ketimbang kognitif.

Selain itu, pengajaran juga diarahkan kepada penghayatan agama yang bersifat terbuka dan progresif, yakni sejalan dengan kemajuan dan kebutuhan zaman, tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar agama. Termasuk di dalamnya toleransi inter dan antaragama, yakni toleransi kepada berbagai kelompok di lingkungan persaudaraan Islam, maupun kepada masyarakat beragama lain.

PRE-TK / TK
SD

Apakah Project-Based Learning?

Project-Based Learning(PBL) adalah pendekatan pengajaran yang secara sistematik melibatkan siswa secara aktif dalam memperoleh pengetahuan, meningkatkan pemahaman dan kecakapan hidup melalui serangkaian proses penyelidikan dan pencarian informasi yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat kompleks dan autentik dalam kegiatan atau proyek tertentu.

Project-Based Learning merupakan pendekatan dinamis terhadap pengajaran dan pembelajaran yang semakin diterima di dunia pendidikan. Kegiatan pembelajaran PBL, di mana siswa mengeksplorasi masalah dan tantangan dunia nyata, semakin populer dan terbukti melibatkan minat dan motivasi diri siswa.

Apakah Project-Based Learning sama dengan project yang biasa ditugaskan guru selama ini?

Penugasan project selama ini  memang cukup berhasil, namun tidak semua “project” mengarah pada pembelajaran.  Seringkali project dikerjakan sendiri tanpa mempertimbangkan pentingnya kerja sama kelompok atau malah dikerjakan oleh orangtua. Bahkan jika dilakukan dalam kelompok, kontribusi siswa secara individual tidak terlihat, atau tidak semua anggota tim berperan secara memadai. Kelemahan lain adalah penilaian yang lebih menekankan pada hasil  tinimbang proses.

Project-Based Learning mengatasi masalah tersebut dengan adanya metodologi yang tepat. Sebuah project yang baik harus berakar dari riset dan memiliki tiga unsur penting: penguasaan konten, penggunaan dan pengembangan keterampilan menyelesaikan masalah dan kecakapan lain yang termasuk dalam Kecakapan Abad Ke-21, serta penguasaan mendalam tentang subyek yang dipelajari.

Apa saja faktor-faktor penting dalam kerangka pembelajaran Project-Based Learning?

Project-Based Learning dirancang dengan mempertimbangkan beberapa faktor penting:

  • Lingkungan belajar yang aman dan terhormat
    • Keamanan fisik dan intelektual bagi semua siswa harus dilindungi sehingga siswa dapat mengambil risiko yang dituntut dalam situasi project yang kompleks. Guruharus menetapkan batas-batas perilaku yang jelas dan mendukung suatu

 

  • atmosfer di mana gagasan yang berbeda dapat bersanding dengan saling menghormati.

 

  • Hubungan guru dan siswa yang personal
    • Guruharus mengenal siswanya dengan cukup baik untuk menjadi mitra pendidik orangtua di sekolah. Ini membutuhkan niat membangun hubungan baik dengan siswa, bersedia mendengarkan dengan hormat dan aktif, dan menyediakan kesempatan nyata bagi siswa untuk turut membentuk lingkungan belajar mereka.
  • Hubungan sesama siswa yang produktif
    • Kemampuan kerjasama tim yang baik yang disyaratkan sebagian besar project membutuhkan lingkungan kelas di mana siswa saling mengenal, mempercayai dan menghargai serta siap terlibat dalam situasi kolaborasi yang kental.
  • Transformasi peran guru
    • PBL mengubah peran guru dari penyedia materi menjadi koordinator pembelajaran. Guruakan mengurangi waktu menerangkan dan mengarahkan, dan sebaliknya akan lebih banyak merencakan, mengamati, mendengarkan, melatih, memfasilitasi dan membentuk karakter.
  • Keterlibatan dan komitmen guru yang semakin intens
    • Guru harus memberi teladan komitmen yang tinggi. Ini berarti bersedia melakukan lebih dari yang diharapkan siswa, merespon kebutuhan individual, mempertahankan harapan keberhasilan bagi semua, dan menolak membiarkan siswa “bersembunyi” atau lolos dengan usaha yang setengah-setengah.
  • Keterlibatan orangtua dalam pembelajaran
    • Orangtua dapat memainkan peran penting dengan membantu siswa dalam proses penyidikan dan pencarian (inquiry), menyediakan sumberdaya tambahan, mendampingi siswa dalam kunjungan belajar yang sesuai dan menjadi penonton dalam eksibisi publik.
  • Kemitraan dengan masyarakat
    • Organisasi kemasyarakatan, perusahaan, dan institusi pendidikan tinggi juga dapat mendukung PBL dalam berbagai cara. Beberapa mitra dapat menyediakan project pendorong (impetusproject) dengan memberdayakan siswa untuk memecahkan masalah riil untuk sekolah, perusahaan atau organisasi mereka. Pihak lain dapat bekerjasama dengan menyediakan mentor, pengarah project, pakar, dan panel penilai unjuk kerja.

Bagaimana teknis penerapan Project-Based Learning di Lazuardi GCS?

Pada tahun ajaran 2013-2014, telah dibuka satu kelas program PBL di Kelas 1, sementara Kelas 1 lainnya tetap menjalankan program reguler. Siswamengikuti model PBL mulai Kelas1 hingga Kelas5. Di Kelas 6, siswa akan mengikuti persiapan Ujian Nasional secara intensif untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Bagi siswa program PBL, mata pelajaran Bahasa Indonesia, Social Studies, Science, Health, Math dan PKn akan terintegrasi dalam project mereka. Siswa program PBL akan bergabung dengan siswa program reguler dalam mata pelajaran lain seperti dalam Olahraga, Art, Pendidikan Islam, English Language Arts; dan kegiatan tambahanseperti Club dan Unit Activity.

Apakah ada kriteria khusus bagi peserta program PBL?

Kegiatan belajar dengan pendekatan Project-Based Learning  mensyaratkan kemandirian siswa dan dukungan orangtua untuk secara intens terlibat dalam pembelajaran. Selain kedua hal tersebut, tidak ada persyaratan lain. Biaya program Project-Based Learning sama dengan biaya kelas reguler.Jika orangtua berminat mengikutsertakan putra/putrinya dalam program ini, silakan menghubungi sekolah untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut.

Apakah yang dimaksud dengan LSP (Lower Secondary Programme)?

Cambridge Lower Secondary Program adalah program Cambridge University, Inggris, untuk peningkatan kualitas pedidikan menengah pertama (SMP) – khususnya dalam 3 bidang utama, Bahasa Inggris, Matematika dan Sains.

Notes: LSP ini masih tercantum di brosur. Ada informasi bahwa LSP sudah di update dengan program Secondary 1. (bisa di cross check ke ASEO)

Bagaimana dengan siswa tidak bisa berbahasa Inggris yang mengikuti kurikulum Cambridge?

SMP Lazuardi mengadakan berbagai program pengembangan bahasa Inggris. Dengan kemauan yang kuat dan penuh rasa percaya diri, siswa yang belum terbiasa berbahasa Inggris seiring perjalanan waktu akan terbiasa berbahasa Inggris. Begitu pula dengan penggunaan bahasa Inggris dalam pembelajaran berkurikulum Cambridge di kelas.

Lulusan SMP Lazuardi melanjutkan ke SMA mana saja?

Ada yang melanjutkan ke SMA Negeri (Depok dan Jakarta), ada yang melanjutkan ke SMA swasta.

Bagaimana chance SMP Lazuardi untuk masuk ke SMA Negeri?

Berdasarkan pengalaman siswa-siswa yang sudah lulus, banyak siswa yang dapat melanjutkan ke SMA negeri. Baik alumni siswa kami yang berasal dari SMA negeri atau swasta pun pada akhirnya tetap dapat melanjutkan ke universitas negeri.

Apakah sering terjadi bullying?

Kemungkinan Bullying  sangat kecil terjadi karena banyaknya program yang dilakukan SMP Lazuardi untuk menekannya, antara lain: guru kelas stand by di kelas. Setiap guru fokus dan mengawasi perilaku siswa. Ada jadwal guru piket di setiap kegiatan rutin dan keseharian siswa,. Pelaksanaan pembelajaran program Unit Aktivitas yang setiap kelompoknya terdiri atas gabungan siswa ketiga jenjang (7-9) sehingga siswa terlatih untuk bekerja sama dan berinteraksi dengan welas asih.

Seberapa banyak materi pelajaran agama Islam yang diberikan dan dalam bentuk apa saja?

Selain materi pelajaran sesuai kurikulum 2013, SMP Lazuardi memiliki banyak program pelajaran Agama Islam yang diterapkan dalam keseharian siswa di sekolah. Antara lain mengaji, ratiban, shalat berjamaah, doa bersama. Selain itu, siswa mengikuti kegiatan rutin berdasarkan waktu tertentu, yaitu Tahajud Bersama yang diadakan sekitar2-3 kali dalam setahun  dan kegiatan perayaan hari-hari besar Agama Islam.

Apa saja kegiatan ekskul yang diadakan di sekolah?

Antara lain ekskul panahan, renang, taekwondo, mangaa, mini orkestra.

Apakah tersedia fasilitas antar jemput?

Ya, tersedia sesuai area yang ditentukan oleh sekolah.

Pukul berapa kegiatan pembelajaran dimulai dan selesai?

Pembelajaran dimulai pukul  7.30 dan selesai pada pukul 14.35 WIB.

Bagaimana persiapan UN nanti?

Seluruh kegiatan pembelajaran siswa kelas 9 akan difokuskan pada persiapan Ujian Nasional (UN). Persiapan yang dilakukan adalah: try out, latihan soal di kelas, bimbingan belajar bersama guru-guru di sekolah dengan jadwal khusus

Perbedaan antara ekskul, UA, dan club

Ekskul (ekstrakurikuler) adalah kegiatan yang dapat dipilih siswa sesuai minatnya dan tidak termasuk dalam materi pembelajaran. Diadakan saat pulang sekolah atau hari Sabtu, memerlukan biaya khusus jika siswa ingin mengikutinya.

UA (Unit Aktivitas) adalah kegiatan pembelajaran (program pengembangan life skills)yang terbagi atas beberapa paket, sudah termasuk dalam biaya sekolah, dan wajib diikuti oleh seluruh siswa. Setiap paket terdiri dari beberapa bidang: olahraga, musik, Art, pengembangan diri, dan IT.

Club adalah program pengembangan khusus siswa yang berbakat/berpotensi dalam bidang tertentu, contohnya: Club Band, Club Science. Tidak dikenakan biaya untuk bergabung dalam club tertentu. Keikutsertaannya atas rekomendasi guru.

SMP

Frequently Asked Questions

Tentang Beban Kurikulum

Lazuardi meminimumkan beban kurikulum hingga sebatas yang benar-benar diperlukan, sejalan dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, yakni mempersiapkan para siswanya untuk menjadi orang-orang yang sukses dan sejahtera secara fisik, mental, dan spiritual. Dengan kata lain, membekali mereka tidak hanya pengetahuan, namun juga ahklak, life skills dan kepekaan lingkungan,  sebagaimana dicanangkan oleh Kurikulum 2013.

Bagi Lazuardi, unsur-unsur life skills itu mencakup

  • Kecintaan kepada ilmu pengetahuan
  • Keterampilan belajar (mencari ilmu)
  • Keterampilan berkomunikasi, dalam berbagai bahasa khususnya bahasa Indonesia dan Inggris secara lisan, tertulis, maupun dengan mempergunakan tools lain, seperti komputer, audio-visual, dsb.
  • Kepercayaan diri
  • Akhlak mulia
  • Kepekaan Sosial
  • Penghargaan kepada lingkungan hidup

Penetapan mata pelajaran, tema-tema, dan topik-topik bahasan dilakukan dengan sepenuhnya mengacu kepada kebutuhan akan penanaman life skills tersebut di atas. Yang tidak sejalan dengan itu, meski masuk dalam Kurikulum Nasional, akan dihilangkan. Sementara yang perlu, dan belum tersedia, akan ditambahkan.

Dalam penyusunan kurikulum, Lazuardi juga belajar dari dan mengakomodasikan unsur-unsur yang baik dari berbagai pendidikan lain, baik di dalam maupun di luar negeri.

Tentang Keketatan Standar Pencapaian

Meski menyederhanakan beban kurikulum, sama sekali tak berarti bahwa Lazuardi hendak mengendorkan standar pencapaian atau prestasi siswa. Sebaliknya, pengurangan beban tersebut dilakukan justru agar tersedia cukup waktu dan sumberdaya untuk mencapai tingkat pencapaian maksimum dalam bidang-bidang yang menjadi sasaran pendidikan di Lazuardi seperti tersebut di atas. Tegasnya, Lazuardi menetapkan dan mengejar tingkat tertinggi pencapaian para siswanya.

Tentang Ketiadaan Tes Masuk dan Observasi

Ketiadaan tes masuk sama sekali tak ada hubungannya dengan standar prestasi yang hendak dicapai. Tes masuk ditiadakan karena sedikitnya 2 alasan :

  • Agar tak ada diskriminasi berdasar kemampuan akademik anak. Menurut keyakinan para pendiri Lazuardi, setiap anak berhak mendapatkan pendidikan terbaik. Bahkan Lazuardi menerima siswa yang memiliki kebutuhan khusus yang sesungguhnya secara potensial dapat menghambat perkembangan kegiatan belajarnya.
  • Kedua, Lazuardi percaya bahwa sekolah yang baik adalah yang dapat mengembangkan potensi siswanya, seperti apa pun kesiapan-akademiknya, menuju kehidupan yang sukses dan sejahtera.

Sebagai ganti tes masuk, Lazuardi mewajibkan para siswanya yang telah diterima semata-mata on first come first served basis untuk mengikuti observasi. Observasi ini dilakukan semata-mata untuk mengumpulkan informasi akan kesiapan, kelebihan, dan kekurangan siswa agar dengan demikian bisa dirancang kegiatan pembelajaran yang sesuai untuk masing-masing siswa tersebut.

Lazuardi juga menerapkan sistem remedial untuk siswa yang terlambat, dan pengayaan untuk siswa yang memiliki kelebihan di bidang-bidang tertentu.

Tentang Fun Learning, Suasana Demokratis, dan Disiplin

Meski sepenuhnya percaya bahwa para siswa akan belajar paling baik dalam suasana nyaman, fun, dan demokratis, Lazuardi juga percaya pada keharusan menegakkan disiplin di kalangan para siswanya. Menciptakan lingkungan yang nyaman, fun, serta demokratis merupakan suatu hal, sedang penegakan disiplin adalah hal lain. Bahkan, pendekatan belajar-mengajar yang fun dan demokratis justru lebih membutuhkan disiplin yang ketat agar tidak terjadi chaos.

Pendisiplinan siswa dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal sedapat mungkin ditetapkan sebagai konsensus dengan para siswa sendiri adil, serta tidak merusak harga diri dan kepercayaan diri siswa. Di sini perlu dikembangkan apa yang biasa disebut sebagai disiplin positif.

Tentang Hafalan

Hafalan dibatasi (diminimumkan) hanya pada hal-hal yang tak bisa tidak memang harus dihafal, seperti contohnya aritmatika, bacaan shalat dan doa-doa, dan sebagainya. Selebihnya hafalan tidak diperlukan. Jika seorang siswa sudah memiliki kecintaan kepada ilmu pengetahuan, dan tahu caranya mencari ilmu, maka keberadaan alat-alat teknologi (menyimpan dan mencari) informasi seperti komputer, internet, yang di masa-masa yang akan datang akan menjadi lebih praktis, kecil, ringan, powerful, dan affordable sudah cukup untuk menggantikan fungsi hafalan, sekaligus dalam terus meng-update wawasan dan pengetahuan.

Hal ini mengingat, bahwa cepatnya perubahan zaman, akan banyak bahan yang telah dihafal kehilangan relevansinya (kedaluwarsa, obsolete) ketika anak-anak menjadi dewasa. Belum lagi jika kita sadari bahwa banyak bahan yang dihafal kenyatannya mudah terlupa.

Tentang Pekerjaan Rumah

Pekerjaan rumah yang menyita waktu siswa untuk kegiatan bermain, bersosialisasi dengan keluarga, dan kegiatan-kegiatan tambahan di luar sekolah, serta membebani juga diminimumkan. Meski demikian, tetap diperlukan pekerjaan rumah untuk pelajaran-pelajaran yang memerlukan banyak latihan (drill) seperti membaca, menulis, matematika dan kegiatan-kegiatan (projects) yang membutuhkan interaksi dengan lingkungan luar sekolah, wawancara, penelitian, dan sebagainya.

Namun, kapan saja dimungkinkan, hendaknya PR-PR tersebut juga mengandung unsur yang menyenangkan bagi siswa sehingga tak terlalu menambah beban dan tingkat stres siswa (kadang-kadang juga keluarganya).

Tentang Penerapan Bilingual Teaching

Bilingual Teaching, yakni penggunaan Bahasa Inggris di samping bahasa Indonesia sebagai medium pengajaran, dilakukan secara bertahap sesuai dengan kesiapan siswa dan guru. Program ini dimulai pada tahun ajaran 2003/2004. Penerapan program ini secara relatif penuh dimulai dengan kelas I SD pada tahun ajaran itu dan berlanjut untuk kelas-kelas I pada tahun-tahun setelah itu. Sehingga,diharapkan, program bilingual ini bisa diterapkan dengan penuh pada tahun ke-6 setelah pencanangannya (Tahun ajaran 2009/2010). Pemilihan kelas I ini terutama diambil karena sebagian besar siswa kelas I adalah lulusan TK Lazuardi yang relatif sudah lebih siap. Meskipun demikian, di kelas-kelas lain metode bilingual juga diterapkan sesuai kesiapan siswa.

Tentang Text Books dan Bahan Ajar

Karena tak sepenuhnya mengikuti Kurikulum Nasional, maka Lazuardi juga tak sepenuhnya menggunakan text books yang dibuat berdasar kurikulum Nasional tersebut. Saat ini SD Lazuardi mempergunakan buku yang dipakai di sekolah Singapura (Seri My Pals) karena sejauh ini diangap paling sesuai dengan kurikulum khas Lazuardi. Selain itu, digunakan juga handouts yang dikembangkan sendiri oleh para guru. Secara bertahap diharapkan kumpulan handouts akan menjadi bahan ajar utama di Lazuardi.

Juga, terbuka kemungkinan di waktu-waktu yang tepat digunakan text book pendukung lain, bisa dari Eropa, atau Amerika, atau dari negara-negara lain, atau bahkan dari dalam negeri juga. Penggunan text books berbahasa Inggris diharapkan juga dapat lebih mendukung program bilingual teaching.

Tentang Tes dan Ujian

Bahan-bahan untuk keperluan penilaian (assesment) dan ujian (examination) dipilih yang sepenuhnya sejalan dngan kurikulum khas Lazuardi. Kecuali dalam bidang-bidang tertentu yang memang membutuhkan hafalan seperti disinggung sebelumnya penilaian dan ujian diarahkan untuk menilai pemahaman dan penguasaan siswa atas dasar-dasar ilmu dan wawasan umum, bukan hafalan-hafalan.

Penilaian juga tak hanya mengambil bentuk tes tertulis, melainkan juga tes praktik maupun kenyataan praktik sehari-hari siswa dalam kehidupan sekolah, sesuai dengan sifat kemampuan yang diharapkan dari siswa apakah kognitif, afektif, atau psikomotorik.

Bobot penilaian antara tes tertulis, tes praktik, dan kenyataan praktik sehari-hari untuk masing-masing bidang pelajaran bisa bervariasi tergantung pada jenis kemampuan yang diharapkan tersebut. Misal, pada tes olah raga, nilai tes praktik akan jauh lebih besar dari nilai tes tertulis, demikian juga mengaji dan melakukan ibadah-ibadah ritual. Dalam bidang akhlak, kenyataan praktik sehar-hari siswa diberi bobot paling besar.

Tes diselenggarakan terutama untuk meng-endorse penguasan siswa, dan mendapatkan feed back bagi kegiatan belajar-mengajar (baik untuk sekolah, guru, maupun siswa sendiri), dan bukan untuk menghukum.

Tentang Kesiapan Siswa Menghadapi Standar non-Lazuardi (Ujian Akhir, Ujian Masuk ke Jenjang Lebih Tinggi, dan Jika Siswa Pindah Sekolah di Tengah Jalan)

Untuk menghadapi ujian akhir atau ujian masuk ke jenjang yang lebih tinggi, Lazuardi menyediakan waktu khusus dan secukupnya (sedikitnya satu semester terakhir) menjelang ujian-ujian tersebut untuk men-drill para siswa dengan unsur-unsur kurikulum nasional yang tidak tercakup dalam kurikulum khas Lazuardi dalam semacam bimbingan tes in house. Penyediaan waktu ini dapat dimungkinkan mengingat kurikulum khas Lazuardi bisa diselesaikan lebih cepat sehubungan dengan pengurangan beban kurikulum nasional yang dilakukannya.

Berdasar pengamatan Lazuardi, ujian-ujian terstandardisasikan yang bersifat nasional dan masih berorientasi kurikulum model tradisional akan makin kurang kepentingannya. Ujian akhir SD sudah dihilangkan, kemungkinan besar juga SMP, bahkan SMA. Kalau pun ada, fungsinya akan diarahkan sebagai alat untuk mendapatkan feed back bagi pemerintah mengenai kualitas umum pendidikan nasional kita.

Ujian masuk sekolah pun kemungkinan akan lebih berorientasi kepada aptitude test yang menguji kemampuan dasar dan umum, yang tak membutuhkan penguasaan mendetil dan hafalan terhadap suatu spektrum luas tema-tema dan topik bahasan. Yakni semacam SAT (Standard Aptitude Test) dan GRE (General Record Examination) yang selama ini sudah diterapkan di negara-negara maju. Kecenderungan ini sudah mulai terlihat dalam tes masuk PT-PT berkualitas di negeri kita, seperti ITB, UGM, IPB, dan sebagainya. Diduga kecenderungan seperti ini akan makin nyata di masa-masa mendatang.

Dalam hal siswa terpaksa harus pindah sekolah di tengah jalan, diharapkan orang tua dapat mencarikan sekolah yang memiliki kesejalanan dengan konsep Lazuardi. Atau, kalau tidak, diharapkan keterampilan belajar siswa yang telah ditanamkan di Lazuardi dapat membantu anak mengejar tema-tema bahasan yang belum dikuasainya.

Tentang Kaidah Semua Anak Naik Kelas

Lazuardi menganggap sebagaimana sistem yang diterapkan di negara-negara maju, siswa harus menempati jenjang pendidikan berdasar usianya. Membiarkan anak tetap tinggal di kelasnya yang lama karena kurangnya prestasi akademik, lebih banyak merugikan siswa ketimbang menguntungkan. Hal seperti ini lebih sering merusak self confident siswa, mencerabutnya dari jaringan-sosialnya, dan dengan demikian tidak banyak membantu membangkitkan semangatnya. Yang sering terjadi, anak yang tinggal kelas akan terus mundur prestasinya. Yang lebih diperlukan adalah program remedial dan upaya untuk membangkitkan semangat belajar siswa yang mundur. Khususnya untuk jenjang-jenjang pendidikan rendah, keberhasilan siswa masih amat tergantung dan lebih merupakan tanggung jawab guru dan sekolah.

Siswa dapat saja tidak dinaikkan kelas karena alasan-alasan yang amat khusus, umumnya terkait dengan persoalan sikap, misal banyak melanggar kedisiplinan dan aturan sekolah sering tidak masuk sekolah ditambah kurangnya perhatian orang tua, atau karena alasan-alasan lain yang dapat diterima. Namun, sebelumnya sudah harus dilakukan peringatan dan diambil tindakan-tindakan seperlunya. Keputusan untuk tak menaikkan kelas harus mendapatkan approval dari Direktur Sekolah.

Tentang Nilai Penting Membaca dan Menulis

Perlu penekanan khusus pada peningkatan kemampuan membaca dan menulis siswa. Karena, kegiatan membaca dan menulis sudah disepakati amat sentral dalam menentukan kesuksesan, sekaligus menunjang pencapaian kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Membaca bukan saja menambah ilmu dan wawasan yang makin krusial dalam lingkungan yang berubah secara amat cepat melainkan juga dapat meningkatkan daya tahan (resilience. Adversity Quotient), sekaligus juga memiliki unsur eksistensial dan terapeutik. Menulis adalah medium ekspresi dan komunikasi, serta memiliki juga unsur terapeutik. (Dalam hubungannya dengan kegiatan menulis ini, kegiatan membaca juga memiliki peran yang amat menetukan). Sepintar apapun dan seluas apa pun wawasan seseorang, kesemuanya itu tak akan banyak berguna jika tak terkomunukasikan.

Tentang Prinsip Pendidikan Inklusi

Lazuardi percaya bahwa setiap anak dapat didik untuk hidup sejahtera dan berhak untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik. Di sisi lain, Lazuardi juga percaya bahwa anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus (special needs) akan terdidik dengan cara paling baik jika diakomodasi dalam sebuah pendidikan umum bersama anak-anak yang tak memiliki kebutuhan khusus. Menempatkan anak-anak seperti ini dalam suatu pendidikan khusus, meski mungkin lebih praktis, hanya akan mempersempit dunianya, dan memperkecil ruangnya untuk belajar lebih banyak dari dunia yang lebih luas. Sekaligus juga lebih memungkinkan mereka untuk memola cara-hidup mereka sesuai dengan cara hidup orang-orang yang tak memiliki kebutuhan khusus pada umumnya.

Meski demikian, Lazuardi juga menyadari bahwa anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti ini memerlukan sebatas tertentu terapi untuk mengatasi atau mengurangi hambatan akibat kebutuhan-kebutuhan-khusus mereka tersebut. Karena itu, Lazuardi juga menyediakan kelas khusus dengan nama Kelas Pelangi untuk menyelenggarakan terapi-terapi tambahan seperti itu. Sejalan dengan itu, Lazuardi juga mempekerjakan terapis-terapis yang ahli di bidangnya untuk menangani anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti ini.

Pada praktitknya, keberadaan anak-anak dengan kebutuhan khusus ini ternyata juga memberikan dampak positif pada anak-anak lainnya. Yakni, dalam bentuk tumbuhnya kasih sayang dan rasa pengertian kepada teman-teman spesial mereka ini. Secara tidak langsung, hal ini menjadi semacam medium pendidikan emotional intelligence (khususnya aspek interpersonal intelligence), yang terbukti akan amat bermanfaat bagi kesuksesan hidup mereka kelak,

Tentang Pengajaran Agama

Pengajaran agama di Lazuardi, selain dimaksudkan untuk memberikan keterampilan menjalankan ibadah, diarahkan terutama untuk menanamkan akhlak mulia kepada para siswanya. Karenanya, orientasinya lebih kepada ranah afektif (sikap) dan psikomotorik praktis), ketimbang kognitif.

Selain itu, pengajaran juga diarahkan kepada penghayatan agama yang bersifat terbuka dan progresif, yakni sejalan dengan kemajuan dan kebutuhan zaman, tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar agama. Termasuk di dalamnya toleransi inter dan antaragama, yakni toleransi kepada berbagai kelompok di lingkungan persaudaraan Islam, maupun kepada masyarakat beragama lain.

Apakah Project-Based Learning?

Project-Based Learning(PBL) adalah pendekatan pengajaran yang secara sistematik melibatkan siswa secara aktif dalam memperoleh pengetahuan, meningkatkan pemahaman dan kecakapan hidup melalui serangkaian proses penyelidikan dan pencarian informasi yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat kompleks dan autentik dalam kegiatan atau proyek tertentu.

Project-Based Learning merupakan pendekatan dinamis terhadap pengajaran dan pembelajaran yang semakin diterima di dunia pendidikan. Kegiatan pembelajaran PBL, di mana siswa mengeksplorasi masalah dan tantangan dunia nyata, semakin populer dan terbukti melibatkan minat dan motivasi diri siswa.

Apakah Project-Based Learning sama dengan project yang biasa ditugaskan guru selama ini?

Penugasan project selama ini  memang cukup berhasil, namun tidak semua “project” mengarah pada pembelajaran.  Seringkali project dikerjakan sendiri tanpa mempertimbangkan pentingnya kerja sama kelompok atau malah dikerjakan oleh orangtua. Bahkan jika dilakukan dalam kelompok, kontribusi siswa secara individual tidak terlihat, atau tidak semua anggota tim berperan secara memadai. Kelemahan lain adalah penilaian yang lebih menekankan pada hasil  tinimbang proses.

Project-Based Learning mengatasi masalah tersebut dengan adanya metodologi yang tepat. Sebuah project yang baik harus berakar dari riset dan memiliki tiga unsur penting: penguasaan konten, penggunaan dan pengembangan keterampilan menyelesaikan masalah dan kecakapan lain yang termasuk dalam Kecakapan Abad Ke-21, serta penguasaan mendalam tentang subyek yang dipelajari.

Apa saja faktor-faktor penting dalam kerangka pembelajaran Project-Based Learning?

Project-Based Learning dirancang dengan mempertimbangkan beberapa faktor penting:

  • Lingkungan belajar yang aman dan terhormat
    • Keamanan fisik dan intelektual bagi semua siswa harus dilindungi sehingga siswa dapat mengambil risiko yang dituntut dalam situasi project yang kompleks. Guruharus menetapkan batas-batas perilaku yang jelas dan mendukung suatu

 

  • atmosfer di mana gagasan yang berbeda dapat bersanding dengan saling menghormati.

 

  • Hubungan guru dan siswa yang personal
    • Guruharus mengenal siswanya dengan cukup baik untuk menjadi mitra pendidik orangtua di sekolah. Ini membutuhkan niat membangun hubungan baik dengan siswa, bersedia mendengarkan dengan hormat dan aktif, dan menyediakan kesempatan nyata bagi siswa untuk turut membentuk lingkungan belajar mereka.
  • Hubungan sesama siswa yang produktif
    • Kemampuan kerjasama tim yang baik yang disyaratkan sebagian besar project membutuhkan lingkungan kelas di mana siswa saling mengenal, mempercayai dan menghargai serta siap terlibat dalam situasi kolaborasi yang kental.
  • Transformasi peran guru
    • PBL mengubah peran guru dari penyedia materi menjadi koordinator pembelajaran. Guruakan mengurangi waktu menerangkan dan mengarahkan, dan sebaliknya akan lebih banyak merencakan, mengamati, mendengarkan, melatih, memfasilitasi dan membentuk karakter.
  • Keterlibatan dan komitmen guru yang semakin intens
    • Guru harus memberi teladan komitmen yang tinggi. Ini berarti bersedia melakukan lebih dari yang diharapkan siswa, merespon kebutuhan individual, mempertahankan harapan keberhasilan bagi semua, dan menolak membiarkan siswa “bersembunyi” atau lolos dengan usaha yang setengah-setengah.
  • Keterlibatan orangtua dalam pembelajaran
    • Orangtua dapat memainkan peran penting dengan membantu siswa dalam proses penyidikan dan pencarian (inquiry), menyediakan sumberdaya tambahan, mendampingi siswa dalam kunjungan belajar yang sesuai dan menjadi penonton dalam eksibisi publik.
  • Kemitraan dengan masyarakat
    • Organisasi kemasyarakatan, perusahaan, dan institusi pendidikan tinggi juga dapat mendukung PBL dalam berbagai cara. Beberapa mitra dapat menyediakan project pendorong (impetusproject) dengan memberdayakan siswa untuk memecahkan masalah riil untuk sekolah, perusahaan atau organisasi mereka. Pihak lain dapat bekerjasama dengan menyediakan mentor, pengarah project, pakar, dan panel penilai unjuk kerja.

Bagaimana teknis penerapan Project-Based Learning di Lazuardi GCS?

Pada tahun ajaran 2013-2014, telah dibuka satu kelas program PBL di Kelas 1, sementara Kelas 1 lainnya tetap menjalankan program reguler. Siswamengikuti model PBL mulai Kelas1 hingga Kelas5. Di Kelas 6, siswa akan mengikuti persiapan Ujian Nasional secara intensif untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Bagi siswa program PBL, mata pelajaran Bahasa Indonesia, Social Studies, Science, Health, Math dan PKn akan terintegrasi dalam project mereka. Siswa program PBL akan bergabung dengan siswa program reguler dalam mata pelajaran lain seperti dalam Olahraga, Art, Pendidikan Islam, English Language Arts; dan kegiatan tambahanseperti Club dan Unit Activity.

Apakah ada kriteria khusus bagi peserta program PBL?

Kegiatan belajar dengan pendekatan Project-Based Learning  mensyaratkan kemandirian siswa dan dukungan orangtua untuk secara intens terlibat dalam pembelajaran. Selain kedua hal tersebut, tidak ada persyaratan lain. Biaya program Project-Based Learning sama dengan biaya kelas reguler.Jika orangtua berminat mengikutsertakan putra/putrinya dalam program ini, silakan menghubungi sekolah untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut.

Apakah yang dimaksud dengan LSP (Lower Secondary Programme)?

Cambridge Lower Secondary Program adalah program Cambridge University, Inggris, untuk peningkatan kualitas pedidikan menengah pertama (SMP) – khususnya dalam 3 bidang utama, Bahasa Inggris, Matematika dan Sains.

Notes: LSP ini masih tercantum di brosur. Ada informasi bahwa LSP sudah di update dengan program Secondary 1. (bisa di cross check ke ASEO)

Bagaimana dengan siswa tidak bisa berbahasa Inggris yang mengikuti kurikulum Cambridge?

SMP Lazuardi mengadakan berbagai program pengembangan bahasa Inggris. Dengan kemauan yang kuat dan penuh rasa percaya diri, siswa yang belum terbiasa berbahasa Inggris seiring perjalanan waktu akan terbiasa berbahasa Inggris. Begitu pula dengan penggunaan bahasa Inggris dalam pembelajaran berkurikulum Cambridge di kelas.

Lulusan SMP Lazuardi melanjutkan ke SMA mana saja?

Ada yang melanjutkan ke SMA Negeri (Depok dan Jakarta), ada yang melanjutkan ke SMA swasta.

Bagaimana chance SMP Lazuardi untuk masuk ke SMA Negeri?

Berdasarkan pengalaman siswa-siswa yang sudah lulus, banyak siswa yang dapat melanjutkan ke SMA negeri. Baik alumni siswa kami yang berasal dari SMA negeri atau swasta pun pada akhirnya tetap dapat melanjutkan ke universitas negeri.

Apakah sering terjadi bullying?

Kemungkinan Bullying  sangat kecil terjadi karena banyaknya program yang dilakukan SMP Lazuardi untuk menekannya, antara lain: guru kelas stand by di kelas. Setiap guru fokus dan mengawasi perilaku siswa. Ada jadwal guru piket di setiap kegiatan rutin dan keseharian siswa,. Pelaksanaan pembelajaran program Unit Aktivitas yang setiap kelompoknya terdiri atas gabungan siswa ketiga jenjang (7-9) sehingga siswa terlatih untuk bekerja sama dan berinteraksi dengan welas asih.

Seberapa banyak materi pelajaran agama Islam yang diberikan dan dalam bentuk apa saja?

Selain materi pelajaran sesuai kurikulum 2013, SMP Lazuardi memiliki banyak program pelajaran Agama Islam yang diterapkan dalam keseharian siswa di sekolah. Antara lain mengaji, ratiban, shalat berjamaah, doa bersama. Selain itu, siswa mengikuti kegiatan rutin berdasarkan waktu tertentu, yaitu Tahajud Bersama yang diadakan sekitar2-3 kali dalam setahun  dan kegiatan perayaan hari-hari besar Agama Islam.

Apa saja kegiatan ekskul yang diadakan di sekolah?

Antara lain ekskul panahan, renang, taekwondo, mangaa, mini orkestra.

Apakah tersedia fasilitas antar jemput?

Ya, tersedia sesuai area yang ditentukan oleh sekolah.

Pukul berapa kegiatan pembelajaran dimulai dan selesai?

Pembelajaran dimulai pukul  7.30 dan selesai pada pukul 14.35 WIB.

Bagaimana persiapan UN nanti?

Seluruh kegiatan pembelajaran siswa kelas 9 akan difokuskan pada persiapan Ujian Nasional (UN). Persiapan yang dilakukan adalah: try out, latihan soal di kelas, bimbingan belajar bersama guru-guru di sekolah dengan jadwal khusus

Kepala Pra-TK & TK

Perbedaan antara ekskul, UA, dan club

Ekskul (ekstrakurikuler) adalah kegiatan yang dapat dipilih siswa sesuai minatnya dan tidak termasuk dalam materi pembelajaran. Diadakan saat pulang sekolah atau hari Sabtu, memerlukan biaya khusus jika siswa ingin mengikutinya.

UA (Unit Aktivitas) adalah kegiatan pembelajaran (program pengembangan life skills)yang terbagi atas beberapa paket, sudah termasuk dalam biaya sekolah, dan wajib diikuti oleh seluruh siswa. Setiap paket terdiri dari beberapa bidang: olahraga, musik, Art, pengembangan diri, dan IT.

Club adalah program pengembangan khusus siswa yang berbakat/berpotensi dalam bidang tertentu, contohnya: Club Band, Club Science. Tidak dikenakan biaya untuk bergabung dalam club tertentu. Keikutsertaannya atas rekomendasi guru.

GENERAL

Tentang Beban Kurikulum

Lazuardi meminimumkan beban kurikulum hingga sebatas yang benar-benar diperlukan, sejalan dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, yakni mempersiapkan para siswanya untuk menjadi orang-orang yang sukses dan sejahtera secara fisik, mental, dan spiritual. Dengan kata lain, membekali mereka tidak hanya pengetahuan, namun juga ahklak, life skills dan kepekaan lingkungan,  sebagaimana dicanangkan oleh Kurikulum 2013.

Bagi Lazuardi, unsur-unsur life skills itu mencakup

  • Kecintaan kepada ilmu pengetahuan
  • Keterampilan belajar (mencari ilmu)
  • Keterampilan berkomunikasi, dalam berbagai bahasa khususnya bahasa Indonesia dan Inggris secara lisan, tertulis, maupun dengan mempergunakan tools lain, seperti komputer, audio-visual, dsb.
  • Kepercayaan diri
  • Akhlak mulia
  • Kepekaan Sosial
  • Penghargaan kepada lingkungan hidup

Penetapan mata pelajaran, tema-tema, dan topik-topik bahasan dilakukan dengan sepenuhnya mengacu kepada kebutuhan akan penanaman life skills tersebut di atas. Yang tidak sejalan dengan itu, meski masuk dalam Kurikulum Nasional, akan dihilangkan. Sementara yang perlu, dan belum tersedia, akan ditambahkan.

Dalam penyusunan kurikulum, Lazuardi juga belajar dari dan mengakomodasikan unsur-unsur yang baik dari berbagai pendidikan lain, baik di dalam maupun di luar negeri.

Tentang Keketatan Standar Pencapaian

Meski menyederhanakan beban kurikulum, sama sekali tak berarti bahwa Lazuardi hendak mengendorkan standar pencapaian atau prestasi siswa. Sebaliknya, pengurangan beban tersebut dilakukan justru agar tersedia cukup waktu dan sumberdaya untuk mencapai tingkat pencapaian maksimum dalam bidang-bidang yang menjadi sasaran pendidikan di Lazuardi seperti tersebut di atas. Tegasnya, Lazuardi menetapkan dan mengejar tingkat tertinggi pencapaian para siswanya.

Tentang Ketiadaan Tes Masuk dan Observasi

Ketiadaan tes masuk sama sekali tak ada hubungannya dengan standar prestasi yang hendak dicapai. Tes masuk ditiadakan karena sedikitnya 2 alasan :

  • Agar tak ada diskriminasi berdasar kemampuan akademik anak. Menurut keyakinan para pendiri Lazuardi, setiap anak berhak mendapatkan pendidikan terbaik. Bahkan Lazuardi menerima siswa yang memiliki kebutuhan khusus yang sesungguhnya secara potensial dapat menghambat perkembangan kegiatan belajarnya.
  • Kedua, Lazuardi percaya bahwa sekolah yang baik adalah yang dapat mengembangkan potensi siswanya, seperti apa pun kesiapan-akademiknya, menuju kehidupan yang sukses dan sejahtera.

Sebagai ganti tes masuk, Lazuardi mewajibkan para siswanya yang telah diterima semata-mata on first come first served basis untuk mengikuti observasi. Observasi ini dilakukan semata-mata untuk mengumpulkan informasi akan kesiapan, kelebihan, dan kekurangan siswa agar dengan demikian bisa dirancang kegiatan pembelajaran yang sesuai untuk masing-masing siswa tersebut.

Lazuardi juga menerapkan sistem remedial untuk siswa yang terlambat, dan pengayaan untuk siswa yang memiliki kelebihan di bidang-bidang tertentu.

Tentang Fun Learning, Suasana Demokratis, dan Disiplin

Meski sepenuhnya percaya bahwa para siswa akan belajar paling baik dalam suasana nyaman, fun, dan demokratis, Lazuardi juga percaya pada keharusan menegakkan disiplin di kalangan para siswanya. Menciptakan lingkungan yang nyaman, fun, serta demokratis merupakan suatu hal, sedang penegakan disiplin adalah hal lain. Bahkan, pendekatan belajar-mengajar yang fun dan demokratis justru lebih membutuhkan disiplin yang ketat agar tidak terjadi chaos.

Pendisiplinan siswa dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal sedapat mungkin ditetapkan sebagai konsensus dengan para siswa sendiri adil, serta tidak merusak harga diri dan kepercayaan diri siswa. Di sini perlu dikembangkan apa yang biasa disebut sebagai disiplin positif.

Tentang Hafalan

Hafalan dibatasi (diminimumkan) hanya pada hal-hal yang tak bisa tidak memang harus dihafal, seperti contohnya aritmatika, bacaan shalat dan doa-doa, dan sebagainya. Selebihnya hafalan tidak diperlukan. Jika seorang siswa sudah memiliki kecintaan kepada ilmu pengetahuan, dan tahu caranya mencari ilmu, maka keberadaan alat-alat teknologi (menyimpan dan mencari) informasi seperti komputer, internet, yang di masa-masa yang akan datang akan menjadi lebih praktis, kecil, ringan, powerful, dan affordable sudah cukup untuk menggantikan fungsi hafalan, sekaligus dalam terus meng-update wawasan dan pengetahuan.

Hal ini mengingat, bahwa cepatnya perubahan zaman, akan banyak bahan yang telah dihafal kehilangan relevansinya (kedaluwarsa, obsolete) ketika anak-anak menjadi dewasa. Belum lagi jika kita sadari bahwa banyak bahan yang dihafal kenyatannya mudah terlupa.

Tentang Pekerjaan Rumah

Pekerjaan rumah yang menyita waktu siswa untuk kegiatan bermain, bersosialisasi dengan keluarga, dan kegiatan-kegiatan tambahan di luar sekolah, serta membebani juga diminimumkan. Meski demikian, tetap diperlukan pekerjaan rumah untuk pelajaran-pelajaran yang memerlukan banyak latihan (drill) seperti membaca, menulis, matematika dan kegiatan-kegiatan (projects) yang membutuhkan interaksi dengan lingkungan luar sekolah, wawancara, penelitian, dan sebagainya.

Namun, kapan saja dimungkinkan, hendaknya PR-PR tersebut juga mengandung unsur yang menyenangkan bagi siswa sehingga tak terlalu menambah beban dan tingkat stres siswa (kadang-kadang juga keluarganya).

Tentang Penerapan Bilingual Teaching

Bilingual Teaching, yakni penggunaan Bahasa Inggris di samping bahasa Indonesia sebagai medium pengajaran, dilakukan secara bertahap sesuai dengan kesiapan siswa dan guru. Program ini dimulai pada tahun ajaran 2003/2004. Penerapan program ini secara relatif penuh dimulai dengan kelas I SD pada tahun ajaran itu dan berlanjut untuk kelas-kelas I pada tahun-tahun setelah itu. Sehingga,diharapkan, program bilingual ini bisa diterapkan dengan penuh pada tahun ke-6 setelah pencanangannya (Tahun ajaran 2009/2010). Pemilihan kelas I ini terutama diambil karena sebagian besar siswa kelas I adalah lulusan TK Lazuardi yang relatif sudah lebih siap. Meskipun demikian, di kelas-kelas lain metode bilingual juga diterapkan sesuai kesiapan siswa.

Tentang Text Books dan Bahan Ajar

Karena tak sepenuhnya mengikuti Kurikulum Nasional, maka Lazuardi juga tak sepenuhnya menggunakan text books yang dibuat berdasar kurikulum Nasional tersebut. Saat ini SD Lazuardi mempergunakan buku yang dipakai di sekolah Singapura (Seri My Pals) karena sejauh ini diangap paling sesuai dengan kurikulum khas Lazuardi. Selain itu, digunakan juga handouts yang dikembangkan sendiri oleh para guru. Secara bertahap diharapkan kumpulan handouts akan menjadi bahan ajar utama di Lazuardi.

Juga, terbuka kemungkinan di waktu-waktu yang tepat digunakan text book pendukung lain, bisa dari Eropa, atau Amerika, atau dari negara-negara lain, atau bahkan dari dalam negeri juga. Penggunan text books berbahasa Inggris diharapkan juga dapat lebih mendukung program bilingual teaching.

Tentang Tes dan Ujian

Bahan-bahan untuk keperluan penilaian (assesment) dan ujian (examination) dipilih yang sepenuhnya sejalan dngan kurikulum khas Lazuardi. Kecuali dalam bidang-bidang tertentu yang memang membutuhkan hafalan seperti disinggung sebelumnya penilaian dan ujian diarahkan untuk menilai pemahaman dan penguasaan siswa atas dasar-dasar ilmu dan wawasan umum, bukan hafalan-hafalan.

Penilaian juga tak hanya mengambil bentuk tes tertulis, melainkan juga tes praktik maupun kenyataan praktik sehari-hari siswa dalam kehidupan sekolah, sesuai dengan sifat kemampuan yang diharapkan dari siswa apakah kognitif, afektif, atau psikomotorik.

Bobot penilaian antara tes tertulis, tes praktik, dan kenyataan praktik sehari-hari untuk masing-masing bidang pelajaran bisa bervariasi tergantung pada jenis kemampuan yang diharapkan tersebut. Misal, pada tes olah raga, nilai tes praktik akan jauh lebih besar dari nilai tes tertulis, demikian juga mengaji dan melakukan ibadah-ibadah ritual. Dalam bidang akhlak, kenyataan praktik sehar-hari siswa diberi bobot paling besar.

Tes diselenggarakan terutama untuk meng-endorse penguasan siswa, dan mendapatkan feed back bagi kegiatan belajar-mengajar (baik untuk sekolah, guru, maupun siswa sendiri), dan bukan untuk menghukum.

Tentang Kesiapan Siswa Menghadapi Standar non-Lazuardi (Ujian Akhir, Ujian Masuk ke Jenjang Lebih Tinggi, dan Jika Siswa Pindah Sekolah di Tengah Jalan)

Untuk menghadapi ujian akhir atau ujian masuk ke jenjang yang lebih tinggi, Lazuardi menyediakan waktu khusus dan secukupnya (sedikitnya satu semester terakhir) menjelang ujian-ujian tersebut untuk men-drill para siswa dengan unsur-unsur kurikulum nasional yang tidak tercakup dalam kurikulum khas Lazuardi dalam semacam bimbingan tes in house. Penyediaan waktu ini dapat dimungkinkan mengingat kurikulum khas Lazuardi bisa diselesaikan lebih cepat sehubungan dengan pengurangan beban kurikulum nasional yang dilakukannya.

Berdasar pengamatan Lazuardi, ujian-ujian terstandardisasikan yang bersifat nasional dan masih berorientasi kurikulum model tradisional akan makin kurang kepentingannya. Ujian akhir SD sudah dihilangkan, kemungkinan besar juga SMP, bahkan SMA. Kalau pun ada, fungsinya akan diarahkan sebagai alat untuk mendapatkan feed back bagi pemerintah mengenai kualitas umum pendidikan nasional kita.

Ujian masuk sekolah pun kemungkinan akan lebih berorientasi kepada aptitude test yang menguji kemampuan dasar dan umum, yang tak membutuhkan penguasaan mendetil dan hafalan terhadap suatu spektrum luas tema-tema dan topik bahasan. Yakni semacam SAT (Standard Aptitude Test) dan GRE (General Record Examination) yang selama ini sudah diterapkan di negara-negara maju. Kecenderungan ini sudah mulai terlihat dalam tes masuk PT-PT berkualitas di negeri kita, seperti ITB, UGM, IPB, dan sebagainya. Diduga kecenderungan seperti ini akan makin nyata di masa-masa mendatang.

Dalam hal siswa terpaksa harus pindah sekolah di tengah jalan, diharapkan orang tua dapat mencarikan sekolah yang memiliki kesejalanan dengan konsep Lazuardi. Atau, kalau tidak, diharapkan keterampilan belajar siswa yang telah ditanamkan di Lazuardi dapat membantu anak mengejar tema-tema bahasan yang belum dikuasainya.

Tentang Kaidah Semua Anak Naik Kelas

Lazuardi menganggap sebagaimana sistem yang diterapkan di negara-negara maju, siswa harus menempati jenjang pendidikan berdasar usianya. Membiarkan anak tetap tinggal di kelasnya yang lama karena kurangnya prestasi akademik, lebih banyak merugikan siswa ketimbang menguntungkan. Hal seperti ini lebih sering merusak self confident siswa, mencerabutnya dari jaringan-sosialnya, dan dengan demikian tidak banyak membantu membangkitkan semangatnya. Yang sering terjadi, anak yang tinggal kelas akan terus mundur prestasinya. Yang lebih diperlukan adalah program remedial dan upaya untuk membangkitkan semangat belajar siswa yang mundur. Khususnya untuk jenjang-jenjang pendidikan rendah, keberhasilan siswa masih amat tergantung dan lebih merupakan tanggung jawab guru dan sekolah.

Siswa dapat saja tidak dinaikkan kelas karena alasan-alasan yang amat khusus, umumnya terkait dengan persoalan sikap, misal banyak melanggar kedisiplinan dan aturan sekolah sering tidak masuk sekolah ditambah kurangnya perhatian orang tua, atau karena alasan-alasan lain yang dapat diterima. Namun, sebelumnya sudah harus dilakukan peringatan dan diambil tindakan-tindakan seperlunya. Keputusan untuk tak menaikkan kelas harus mendapatkan approval dari Direktur Sekolah.

Tentang Nilai Penting Membaca dan Menulis

Perlu penekanan khusus pada peningkatan kemampuan membaca dan menulis siswa. Karena, kegiatan membaca dan menulis sudah disepakati amat sentral dalam menentukan kesuksesan, sekaligus menunjang pencapaian kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Membaca bukan saja menambah ilmu dan wawasan yang makin krusial dalam lingkungan yang berubah secara amat cepat melainkan juga dapat meningkatkan daya tahan (resilience. Adversity Quotient), sekaligus juga memiliki unsur eksistensial dan terapeutik. Menulis adalah medium ekspresi dan komunikasi, serta memiliki juga unsur terapeutik. (Dalam hubungannya dengan kegiatan menulis ini, kegiatan membaca juga memiliki peran yang amat menetukan). Sepintar apapun dan seluas apa pun wawasan seseorang, kesemuanya itu tak akan banyak berguna jika tak terkomunukasikan.

Tentang Prinsip Pendidikan Inklusi

Lazuardi percaya bahwa setiap anak dapat didik untuk hidup sejahtera dan berhak untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik. Di sisi lain, Lazuardi juga percaya bahwa anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus (special needs) akan terdidik dengan cara paling baik jika diakomodasi dalam sebuah pendidikan umum bersama anak-anak yang tak memiliki kebutuhan khusus. Menempatkan anak-anak seperti ini dalam suatu pendidikan khusus, meski mungkin lebih praktis, hanya akan mempersempit dunianya, dan memperkecil ruangnya untuk belajar lebih banyak dari dunia yang lebih luas. Sekaligus juga lebih memungkinkan mereka untuk memola cara-hidup mereka sesuai dengan cara hidup orang-orang yang tak memiliki kebutuhan khusus pada umumnya.

Meski demikian, Lazuardi juga menyadari bahwa anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti ini memerlukan sebatas tertentu terapi untuk mengatasi atau mengurangi hambatan akibat kebutuhan-kebutuhan-khusus mereka tersebut. Karena itu, Lazuardi juga menyediakan kelas khusus dengan nama Kelas Pelangi untuk menyelenggarakan terapi-terapi tambahan seperti itu. Sejalan dengan itu, Lazuardi juga mempekerjakan terapis-terapis yang ahli di bidangnya untuk menangani anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti ini.

Pada praktitknya, keberadaan anak-anak dengan kebutuhan khusus ini ternyata juga memberikan dampak positif pada anak-anak lainnya. Yakni, dalam bentuk tumbuhnya kasih sayang dan rasa pengertian kepada teman-teman spesial mereka ini. Secara tidak langsung, hal ini menjadi semacam medium pendidikan emotional intelligence (khususnya aspek interpersonal intelligence), yang terbukti akan amat bermanfaat bagi kesuksesan hidup mereka kelak,

Tentang Pengajaran Agama

Pengajaran agama di Lazuardi, selain dimaksudkan untuk memberikan keterampilan menjalankan ibadah, diarahkan terutama untuk menanamkan akhlak mulia kepada para siswanya. Karenanya, orientasinya lebih kepada ranah afektif (sikap) dan psikomotorik praktis), ketimbang kognitif.

Selain itu, pengajaran juga diarahkan kepada penghayatan agama yang bersifat terbuka dan progresif, yakni sejalan dengan kemajuan dan kebutuhan zaman, tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar agama. Termasuk di dalamnya toleransi inter dan antaragama, yakni toleransi kepada berbagai kelompok di lingkungan persaudaraan Islam, maupun kepada masyarakat beragama lain.

PRE-TK / TK
SD

Apakah Project-Based Learning?

Project-Based Learning(PBL) adalah pendekatan pengajaran yang secara sistematik melibatkan siswa secara aktif dalam memperoleh pengetahuan, meningkatkan pemahaman dan kecakapan hidup melalui serangkaian proses penyelidikan dan pencarian informasi yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat kompleks dan autentik dalam kegiatan atau proyek tertentu.

Project-Based Learning merupakan pendekatan dinamis terhadap pengajaran dan pembelajaran yang semakin diterima di dunia pendidikan. Kegiatan pembelajaran PBL, di mana siswa mengeksplorasi masalah dan tantangan dunia nyata, semakin populer dan terbukti melibatkan minat dan motivasi diri siswa.

Apakah Project-Based Learning sama dengan project yang biasa ditugaskan guru selama ini?

Penugasan project selama ini  memang cukup berhasil, namun tidak semua “project” mengarah pada pembelajaran.  Seringkali project dikerjakan sendiri tanpa mempertimbangkan pentingnya kerja sama kelompok atau malah dikerjakan oleh orangtua. Bahkan jika dilakukan dalam kelompok, kontribusi siswa secara individual tidak terlihat, atau tidak semua anggota tim berperan secara memadai. Kelemahan lain adalah penilaian yang lebih menekankan pada hasil  tinimbang proses.

Project-Based Learning mengatasi masalah tersebut dengan adanya metodologi yang tepat. Sebuah project yang baik harus berakar dari riset dan memiliki tiga unsur penting: penguasaan konten, penggunaan dan pengembangan keterampilan menyelesaikan masalah dan kecakapan lain yang termasuk dalam Kecakapan Abad Ke-21, serta penguasaan mendalam tentang subyek yang dipelajari.

Apa saja faktor-faktor penting dalam kerangka pembelajaran Project-Based Learning?

Project-Based Learning dirancang dengan mempertimbangkan beberapa faktor penting:

  • Lingkungan belajar yang aman dan terhormat
    • Keamanan fisik dan intelektual bagi semua siswa harus dilindungi sehingga siswa dapat mengambil risiko yang dituntut dalam situasi project yang kompleks. Guruharus menetapkan batas-batas perilaku yang jelas dan mendukung suatu

 

  • atmosfer di mana gagasan yang berbeda dapat bersanding dengan saling menghormati.

 

  • Hubungan guru dan siswa yang personal
    • Guruharus mengenal siswanya dengan cukup baik untuk menjadi mitra pendidik orangtua di sekolah. Ini membutuhkan niat membangun hubungan baik dengan siswa, bersedia mendengarkan dengan hormat dan aktif, dan menyediakan kesempatan nyata bagi siswa untuk turut membentuk lingkungan belajar mereka.
  • Hubungan sesama siswa yang produktif
    • Kemampuan kerjasama tim yang baik yang disyaratkan sebagian besar project membutuhkan lingkungan kelas di mana siswa saling mengenal, mempercayai dan menghargai serta siap terlibat dalam situasi kolaborasi yang kental.
  • Transformasi peran guru
    • PBL mengubah peran guru dari penyedia materi menjadi koordinator pembelajaran. Guruakan mengurangi waktu menerangkan dan mengarahkan, dan sebaliknya akan lebih banyak merencakan, mengamati, mendengarkan, melatih, memfasilitasi dan membentuk karakter.
  • Keterlibatan dan komitmen guru yang semakin intens
    • Guru harus memberi teladan komitmen yang tinggi. Ini berarti bersedia melakukan lebih dari yang diharapkan siswa, merespon kebutuhan individual, mempertahankan harapan keberhasilan bagi semua, dan menolak membiarkan siswa “bersembunyi” atau lolos dengan usaha yang setengah-setengah.
  • Keterlibatan orangtua dalam pembelajaran
    • Orangtua dapat memainkan peran penting dengan membantu siswa dalam proses penyidikan dan pencarian (inquiry), menyediakan sumberdaya tambahan, mendampingi siswa dalam kunjungan belajar yang sesuai dan menjadi penonton dalam eksibisi publik.
  • Kemitraan dengan masyarakat
    • Organisasi kemasyarakatan, perusahaan, dan institusi pendidikan tinggi juga dapat mendukung PBL dalam berbagai cara. Beberapa mitra dapat menyediakan project pendorong (impetusproject) dengan memberdayakan siswa untuk memecahkan masalah riil untuk sekolah, perusahaan atau organisasi mereka. Pihak lain dapat bekerjasama dengan menyediakan mentor, pengarah project, pakar, dan panel penilai unjuk kerja.

Bagaimana teknis penerapan Project-Based Learning di Lazuardi GCS?

Pada tahun ajaran 2013-2014, telah dibuka satu kelas program PBL di Kelas 1, sementara Kelas 1 lainnya tetap menjalankan program reguler. Siswamengikuti model PBL mulai Kelas1 hingga Kelas5. Di Kelas 6, siswa akan mengikuti persiapan Ujian Nasional secara intensif untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Bagi siswa program PBL, mata pelajaran Bahasa Indonesia, Social Studies, Science, Health, Math dan PKn akan terintegrasi dalam project mereka. Siswa program PBL akan bergabung dengan siswa program reguler dalam mata pelajaran lain seperti dalam Olahraga, Art, Pendidikan Islam, English Language Arts; dan kegiatan tambahanseperti Club dan Unit Activity.

Apakah ada kriteria khusus bagi peserta program PBL?

Kegiatan belajar dengan pendekatan Project-Based Learning  mensyaratkan kemandirian siswa dan dukungan orangtua untuk secara intens terlibat dalam pembelajaran. Selain kedua hal tersebut, tidak ada persyaratan lain. Biaya program Project-Based Learning sama dengan biaya kelas reguler.Jika orangtua berminat mengikutsertakan putra/putrinya dalam program ini, silakan menghubungi sekolah untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut.

Apakah yang dimaksud dengan LSP (Lower Secondary Programme)?

Cambridge Lower Secondary Program adalah program Cambridge University, Inggris, untuk peningkatan kualitas pedidikan menengah pertama (SMP) – khususnya dalam 3 bidang utama, Bahasa Inggris, Matematika dan Sains.

Notes: LSP ini masih tercantum di brosur. Ada informasi bahwa LSP sudah di update dengan program Secondary 1. (bisa di cross check ke ASEO)

Bagaimana dengan siswa tidak bisa berbahasa Inggris yang mengikuti kurikulum Cambridge?

SMP Lazuardi mengadakan berbagai program pengembangan bahasa Inggris. Dengan kemauan yang kuat dan penuh rasa percaya diri, siswa yang belum terbiasa berbahasa Inggris seiring perjalanan waktu akan terbiasa berbahasa Inggris. Begitu pula dengan penggunaan bahasa Inggris dalam pembelajaran berkurikulum Cambridge di kelas.

Lulusan SMP Lazuardi melanjutkan ke SMA mana saja?

Ada yang melanjutkan ke SMA Negeri (Depok dan Jakarta), ada yang melanjutkan ke SMA swasta.

Bagaimana chance SMP Lazuardi untuk masuk ke SMA Negeri?

Berdasarkan pengalaman siswa-siswa yang sudah lulus, banyak siswa yang dapat melanjutkan ke SMA negeri. Baik alumni siswa kami yang berasal dari SMA negeri atau swasta pun pada akhirnya tetap dapat melanjutkan ke universitas negeri.

Apakah sering terjadi bullying?

Kemungkinan Bullying  sangat kecil terjadi karena banyaknya program yang dilakukan SMP Lazuardi untuk menekannya, antara lain: guru kelas stand by di kelas. Setiap guru fokus dan mengawasi perilaku siswa. Ada jadwal guru piket di setiap kegiatan rutin dan keseharian siswa,. Pelaksanaan pembelajaran program Unit Aktivitas yang setiap kelompoknya terdiri atas gabungan siswa ketiga jenjang (7-9) sehingga siswa terlatih untuk bekerja sama dan berinteraksi dengan welas asih.

Seberapa banyak materi pelajaran agama Islam yang diberikan dan dalam bentuk apa saja?

Selain materi pelajaran sesuai kurikulum 2013, SMP Lazuardi memiliki banyak program pelajaran Agama Islam yang diterapkan dalam keseharian siswa di sekolah. Antara lain mengaji, ratiban, shalat berjamaah, doa bersama. Selain itu, siswa mengikuti kegiatan rutin berdasarkan waktu tertentu, yaitu Tahajud Bersama yang diadakan sekitar2-3 kali dalam setahun  dan kegiatan perayaan hari-hari besar Agama Islam.

Apa saja kegiatan ekskul yang diadakan di sekolah?

Antara lain ekskul panahan, renang, taekwondo, mangaa, mini orkestra.

Apakah tersedia fasilitas antar jemput?

Ya, tersedia sesuai area yang ditentukan oleh sekolah.

Pukul berapa kegiatan pembelajaran dimulai dan selesai?

Pembelajaran dimulai pukul  7.30 dan selesai pada pukul 14.35 WIB.

Bagaimana persiapan UN nanti?

Seluruh kegiatan pembelajaran siswa kelas 9 akan difokuskan pada persiapan Ujian Nasional (UN). Persiapan yang dilakukan adalah: try out, latihan soal di kelas, bimbingan belajar bersama guru-guru di sekolah dengan jadwal khusus

Kepala Pra-TK & TK

Perbedaan antara ekskul, UA, dan club

Ekskul (ekstrakurikuler) adalah kegiatan yang dapat dipilih siswa sesuai minatnya dan tidak termasuk dalam materi pembelajaran. Diadakan saat pulang sekolah atau hari Sabtu, memerlukan biaya khusus jika siswa ingin mengikutinya.

UA (Unit Aktivitas) adalah kegiatan pembelajaran (program pengembangan life skills)yang terbagi atas beberapa paket, sudah termasuk dalam biaya sekolah, dan wajib diikuti oleh seluruh siswa. Setiap paket terdiri dari beberapa bidang: olahraga, musik, Art, pengembangan diri, dan IT.

Club adalah program pengembangan khusus siswa yang berbakat/berpotensi dalam bidang tertentu, contohnya: Club Band, Club Science. Tidak dikenakan biaya untuk bergabung dalam club tertentu. Keikutsertaannya atas rekomendasi guru.

SMP